Sands Multimedia - 085708094363
admin@peternakan.kaltimprov.go.id 0541 - 743921 / 747745
Kementan Luncurkan Gertak Birahi di Kaltim
13 Februari 2015 Admin Website Berita 198
Kementan Luncurkan Gertak Birahi di Kaltim Ir H Dadang Sudarya dan Ir. H.Klawu Eling Waspodo,M. Kepala UPTD Laboratorium Kesehatan Hewan dan Kesmavet

Menurut Kepala Dinas Peternakan Kalimantan Timur (Kaltim) Dadang Sudarya, program Gertak Birahi ini masuk dalam satu paket dengan program Inseminasi Buatan atau (GB-IB), karena begitu birahi betina muncul, langsung dilakukan kawin suntik atau inseminasi buatan (IB).

Kawin suntik merupakan teknik memasukkan sperma beku dari pejantan yang dicairkan ke dalam saluran alat kelamin betina, menggunakan alat khusus yang disebut insemination gun dengan maksud untuk memperbaiki mutu genetika ternak.

Menurutnya, Gertak Birahi dilakukan dengan tujuan untuk mendapatkan sekelompok ternak yang mengalami birahi dalam waktu yang bersamaan, sehingga mampu memudahkan dalam proses perkawinan yang dilakukan dengan teknik insemination gun.

Pola ini diterapkan guna meningkatkan produktivitas sapi melalui gertak birahi. Untuk program IB ini, maka sapi betina harus yang sudah pernah melahirkan.

Jika sapi belum pernah melahirkan, maka sapi betina tersebut bisa mati saat melahirkan. Sapi betina yang masih perawan dan belum pernah melahirkan, berdasaran pengalaman di Kalimantan Selatan, terdapat 40 persen sapi mengalami kematian, sehingga sapai yang dilakukan IB harus yang sudah pernah melahirkan dua kali karena dianggap sudah berpengalaman. Untuk itu, sapi-sapi yang akan diterapkan pola IB di Kaltim adalah sapi indukan yang sudah pernah melahirkan, termasuk sapi bibit unggul sehingga hasilnya juga akan unggul.

Sedangkan keunggulan penerapan pola IB adalah mampu menghemat biaya pemeliharaan ternak jantan, dapat mengatur jarak kelahiran ternak dengan baik, mencegah terjadinya kawin sedarah pada sapi betina (inbreeding).

Melalui peralatan dan teknologi yang baik, sperma dapat disimpan dalam jangka waktu lama, semen beku masih dapat dipakai untuk beberapa tahun meskipun pejantannya telah mati.

Keunggulan lainnya adalah untuk menghindari kecelakaan yang sering terjadi pada saat perkawinan karena fisik pejantan terlalu besar, termasuk untuk menghindari ternak dari penularan penyakit, terutama penyakit yang ditularkan dari hubungan kelamin jantan dan betina.gf.


Artikel Terkait
Copyright 2019 © Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Kaltim | Supported by BubuhanWeb