img
img

Dinas Peternakan

Provinsi Kalimantan Timur

Penangkaran dan Budidaya Ternak Rusa sebagai Ternak Unggulan Baru di Kalimantan Timur

Penangkaran dan Budidaya Ternak Rusa sebagai Ternak Unggulan Baru di Kalimantan Timur

Senin, 06 April 2015

Pendahuluan

Berawal dari sinyalemen Gubernur Kepala Daerah Tingkat I Kalimantan Timur saat itu (Bapak H.M Ardans, SH) rata-rata setiap tahunnya ± 5000 ekor rusa diburu untuk dikonsumsi dagingnya secara tidak terkendali. Hal ini menimbulkan kekhawatiran akan punahnya rusa di Kalimantan Timur. Selanjutnya pada tahun ke-3 Pelita V tepatnya tahun 1990/1991 Dinas Peternakan ditugaskan untuk melakukan upaya penangkaran rusa.

Penangkaran rusa merupakan suatu terobosan yang bersifat pelestarian jenis rusa dari kepunahan dan penyelamatan plasma nutfah spesifik Kalimantan Timur sekaligus sebagai awal domestikasi untuk dapat dibudidayakan dan dimanfaatkan seperti ternak lainnya. Bahkan di beberapa negara ternak ini sudah dibudidayakan dan diternakkan secara komersial dalam kurun waktu ± 50 tahun yang lalu.

Tujuan

  • Menunjang usaha-usaha konservasisuber daya alam dalam rangka pelestarian jenis rusa Sambar.
  • Mengadakan usaha penangkaran, domestikasi dan pembudidayaan, selanjutnya diarahkan agribisnis dan agrowisata.
  • Merupakan kantong alam yang di dalamnya terdapat bahan rekayasa gen.
  • Merupakan laboratorium alam bagi kandidat peneliti.

Karateristik

Rusa Sambar (Cervus Unicolor Brookei) termasuk gologan ternak ruminansia yang mempunyai tingkah laku jelas berbeda dengan ruminansia lain, yaitu mempunyai ketajaman penciumam dan pendengaran serta kecepatan berlari dan melompat cukup tinggi.  Pada umur dewasa berbadan besar, tungkai panjang, hidung gelap dan suara khas melengking nyaring. Umumnya bulu berwarna hitam kecoklatan dan cenderung coklat keabu-abuan atau kemerahan, warna gelap sepanjang bagian atas. Bobot rusa sambar dewasa (10-12 bulan), betina 80-90 kg. Panjang badan berkisar 1,5 m dan tinggi badan 1,4-1,6 m. Bobot lahir 3-4 kg, sedangkan yang jantan antara 90-125 kg. Perkawinan alami secara umum berkisar antara bulan juli sampai september, masa bunting 235 hari atau 7-8 bulan dan calving interval 10-12 bulan.

Pada saat akan melahirkan rusa selalu mencari tempat yang aman seperti semak-semak. Anak akan bersembunyi selama 1-2 minggu, kemudian bergabung dengan kelompok. Anak yang lahir dengan mendapat perlakuan akan menunjukan sifat yang lebih jinak. Pertumbuhan tanduk hanya pada rusa jantan, tumbuh pada umur 14 bulan. Tanduk pertama hanya berbentuk lurus dan akan bercabang pada tumbuh tanduk berikutnya. Tanduk akan lepas pada umur 10-12 bulan setelah tumbuh, selanjutnya akan tumbuh kembali. Rusa yang sudah bunting tua kadang-kadang bersifat lebih agresif dan bisa membahayakan, demikian juga rusa jantan bersifat agresif pada saat tanduk mualai mengeras dan musim kawin.

Tatalaksana

Rusa Sambar memerlukan penanganan yang disesuaikan dengan sifat ternak, yaitu mudah terkejut, cepat bertindak dan daya lompat tinggi apabila merasa terganggu. Penanganan rusa memerlukan kesabaran, tidak boleh melakukan paksaan karena mudah stress. Penanganan dilakukan pada sore atau malam hari di dalam kandang gelap agar rusa lebih tenang. Makanan yang diberikan berupa hijauan unggul sebagai makanan pokok dan konsentrat sebagai makanan tambahan. Hijauan unggul seperti Brachiariadecumben, Kingg Grass, Stylosanthes dan hijauan lainnya diberikan dengan dua sistem yaitu dipotong (cutting) dan digembalakan (grazing). Jumlah makanan yang diberikan berkisar 5-7 kg/ekor/hari berupa hijauan dan konsentrat/penguat ± 1,2 kg/ekor/hari, sedangkan air minum diberikan secara ad libitum.

Tantangan dan Peluang

Rusa merupakan jenis ternak yang mempunyai potensi ekonomi tinggi, karena hampir seluruh bagian tubuh bisa dimanfaatkan, antara lain daging sebagai sumber protein, tanduk muda (velvet) sebagai bahan baku obat tradisional, tanduk tua (antler) sebagai bahan industri, kulit sebagai bahan baku industri penyamakan kulit. Rusa mempunyai potensi produksi daging yang tinggi dengan keunggulan menghasilkan karkas sebesar 56-58 % dibandingkan dengan sapi yang hanya 51-55 % dan domba 44-50 % (Semiadi, G. 1998). Daging rusa yang disebut venison, dikenal karena rendah kandungan kolesterol dan lemak, selain dari sifat dagingnya yang empuk, rasa yang spesifik (gamey flavour) dan rendah kalori. Hal inilah yang dicari oleh para konsumen tingkat menengah ke atas dimasa kini.

Melihat dari potensi tersebut di atas, ternak rusa mempunyai prospek yang cukup menarik dikembangkan sebagai komoditi unggulan baru dibidang peternakan yang bisa diusahakan ke arah agribisnis dan agroindustri, bahkan sangat dimungkinkan untuk dikembangkan ke arah pengembangan agrowisata sebagai salah satu objek wisata dengan tetap menjaga kelestariannya.



Kembali
Selamat Datang Di Website Resmi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur | Flashnews >>> Disnak Kaltim Raih Juara 3 Lomba Website Tingkat Nasional Tahun 2015 -- Gubernur: Swasta Harus Dukung 2 Juta Sapi -- Kaltim Terima 10.000 Sapi Indukan Brahman Cross | Sapi Potong (BH) Rp. 45.000,- / Kg/BH Update: 19 September 2017 Tempat: RPH Samarinda | Broiler Hidup (1 kg) Rp. 20.000,- / Kg/BH Update: 19 September 2017 Tempat: Peternak | Telur Itik Rp. 2.500,- / Butir Update: 19 September 2017 Tempat: Pasar | Kambing (BBH) Rp. 50.000,- / Kg/BH Update: 19 September 2017 Tempat: Pedagang | Ayam Buras (1,5 kg) Rp. 107.500,- / Ekor Update: 19 September 2017 Tempat: Pasar | Daging Sapi Murni Rp. 125.000,- / Kg Update: 19 September 2017 Tempat: Pasar | Telur Ayam Ras Rp. 1.500,- / Butir Update: 19 September 2017 Tempat: Pasar | Telur Ayam Kampung Rp. 2.000,- / Butir Update: 19 September 2017 Tempat: Pasar | Itik Rp. 65.000,- / Ekor Update: 19 September 2017 Tempat: Pasar | Daging Kambing Rp. 140.000,- / Kg Update: 19 September 2017 Tempat: Pasar