img
img

Dinas Peternakan

Provinsi Kalimantan Timur

RUMUSAN SEMENTARA RAPAT KONSULTASI DAN KOORDINASI TEKNIS DAERAH PEMBANGUNAN PETERNAKAN KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2017

Rabu, 08 Maret 2017

RUMUSAN SEMENTARA

RAPAT KONSULTASI DAN KOORDINASI TEKNIS DAERAH

PEMBANGUNAN  PETERNAKAN KALIMANTAN TIMUR TAHUN 2017

Samarinda, 28 Februari – 1Maret 2017

 

Rapat Koordinasi Teknis Daerah(Rakontekda) Pembangunan Peternakan Kalimantan Timur yang dilaksanakanpada tanggal 28 Februari - 1 Maret  2017bertempatdi Kota Samarindamerupakan forum untukberkoordinasi dan konsultasi berbagai hal yang terkait dengan pencapaiankinerjapembangunan peternakantahun 2016, sekaligusmemantapkan strategi pelaksanaan kegiatantahun 2017, serta persiapan penyusunan perencanaan program dan kegiatan tahun 2017. Rapatkonsultasi dan koordinasidiikutioleh 80 orang peserta yang terdiridari; (a) unsurdinaspeternakanprovinsi; dan (b) Dinaspeternakan atau yang menanganifungsipeternakandi Kabupaten/Kota.

Sebagaimana tahun 2016 pembukaan diawali dengan penyelenggaraan Rakor Pangan Terpadu dengan mengambil tema  Sinergitas Pembangunan Pertanian dan Perikanan untuk Mewujudkan Peningkatan Produksi dan Mutu Komoditas Pangan Berdaya Saing Tinggi Guna Memacu Ekspor ”. Pada dasarnya tema ini akan mengingatkan kembali bahwa untuk mencapai 2 juta ekor sapi di Kaltim pada tahun 2018 hanya akan dapat dicapai jika ada komitmen yang tinggi semua pihak yang terkait seperti perbankan, perusahaan perkebunan Kelapa sawit dan perkebunan lainnya, perusahaan pertambangan, masyarakat  peternakan, SKPD terkait baik melalui penganggaran APBN, APBD Provinsi dan APBD Kabupaten Kota.

DenganmemperhatikanarahanGubernurKalimantan Timur;Sekretaris Daerah Kalimantan Timur; Direktur Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan; Pangdam VI Mulawarman;Kapolda Kaltim dan Direktur Jenderal Perkebunan dalamacara pembukaan rakor panganserta paparan para narasumber dalam acara rakontekda seperti Kepala Dinas, Sekretaris Dinas, Kepala Bidang dan Kepala UPTD lingkup Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi KalimantanTimur sertamasukan-masukandari para pesertaRakontekda di dalamdiskusi, terdapatbeberapahal yang perlumendapatkanperhatiandantindaklanjutkitabersamasebagaimanaberikut:

  1. Kesekretariatan
  • Evaluasi terhadap program dan kegiatan pembangunan peternakan dilakukan oleh Tim Evaluasi dari Fakultas Pertanian Universitas Mulawarman dengan rekomendasi bahwa perlunya dukungan terhadap program UPSUS SIWAB melalui penanaman hijauan pakan ternak, penanganan gangguan reproduksi, perbaikan status reproduksi karena hipofungsi dan penyelamatan pemotongan betina produktif.
  • KinerjapembangunanpeternakanKaltimselamatahun 2016, yang diindikasikandariindikator kinerja tujuandalam renstra yang berkontribusi dalam pencapaian RPJMD adalah sebagaiberikut :
  1. Ketersediaan lokal daging dengan target 75% terealisasi sebesar 78,45%. Hal ini menunjukkan adanya kenaikan produksi daging sebanyak 10.577,5 ton dari 70.066. ton di tahun 2015 menjadi 80,643.5 ton di tahun 2016. Sedangkan ketersediaan lokal telur terealisasi sebesar 62,40% dari target 68%. Hal ini disebabkan adanya peningkatan produksi telur sebesar 1.651,2 ton dari 11.627,9 ton di tahun 2015 menjadi 13.279,1 ton di tahun 2016.
  2. Jumlah masyarakat yang memanfaatkan biogas terealisasi 128 KK dari target 128 KK. Hal ini menunjukkan bahwa dari instalasi biogas yang dibangun sebanyak 128 unit, maka masyarakat (KK) yang memanfaatkan biogas sebagai sumber energi alternatif ada 128 KK
  3. Jumlah kebuntingan hasil IB terealisasi sebanyak 2.416 ekor dari target 2.730 ekor dengan capaian 88,50%. merupakan pelaksaan IB yang dilakukan diawal tahun yakni bulan Januari hingga akhir bulan September tahun 2016, sedangkan pelaksaan IB awal bulan Oktober hingga akhir Desember Tahun 2016 akan dapat terlihat di Tahun 2017
  4. Jumlah peternak yang memanfaatkan teknologi pakan hanya terealisasi 74 KK dari target 80 KK.
  5. Jumlah usaha yang memperoleh Sertifikat Nomor Kontrol Veteriner (NKV) terealisasi sebanyak 9 usaha dari target 5 usaha.

 

  1. Bidang Kesehatan Hewan
  • Kesehatan hewan memiliki peran penting dalam mendukung keberhasilan peningkatan populasi dengan program UPSUS SIWAB, yaitu kaitannya dengan identifikasi status reproduksi, gangguan reproduksi maupun status kesehatan ternak secara umum. Penanganan gangguan reproduksi dan pelaksanaan kawin buatan atau inseminasi buatan (IB) harus melalui tahapan identifikasi status reproduksi terlebih dahulu untuk mengetahui keadaan reproduksi ternak tersebut dengan melakukan pemeriksaan palpasi rektal ataupun ultrasonografi (USG) oleh tenaga medik veteriner sebagai tenaga medik reproduksi ataupun oleh tenaga PKB, ATR sebagai paramedik reproduksi dibawah penyeliaan medik veteriner. Penetapan hasil identifikasi status reproduksi meliputi :
    • Ternak bunting
    • Ternak tidak bunting dengan status reproduksi normal, maka ditetapkan menjadi akseptor IB
    • Ternak tidak bunting dengan status gangguan reproduksi, ditetapkan menjadi target penanganan gangrep.
    • Ternak tidak bunting dengan status gangguan reproduksi permanen diberikan Surat keterangan tidak produktif.

Hasil identifikasi pemeriksaan status reproduksi ini menjadi dasar penetapan Surat Keterangan Status Reproduksi (SKSR) dengan target pemeriksaan status reproduksi di Kalimantan Timur tahun 2017 sebanyak 6.942 ekor

Setiap sapi/kerbau yang diberikan penetapan status reproduksi dan belum memiliki  nomor  ear  tag  dan  Nomor  Kartu  Ternak  yang  dikeluarkan iSIKHNAS, harus diberikan:

  • Ear tag atau neck tag
  • Nomor Kartu Ternak yang didaftarkan melalui iSIKHNAS.

 

  • Untuk mendukung upaya pencegahan, pemberantasan dan pengendalian PHMS Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah membangun Sistem Informasi Kesehatan Hewan Nasional Terpadu disingkat iSIKHNAS sejak tahun 2013 sebagai sarana untuk mengumpulkan data, mengolah dan menganalisa data dan telah diterapkan di seluruh Indonesia termasuk di Kalimantan Timur sejak November 2014. Namun dari hasil pemantauan Pusat terhadap pemanfaatan iSIKHNAS, masih banyak kejadian penyakit hewan khususnya Penyakit Hewan Menular Strategis (PHMS) di lapangan yang tidak dilaporkan melalui iSIKHNAS sehingga respon cepat tidak dapat dilaksanakan. Oleh karenanya diperlukan upaya khusus dengan mewajibkan kepada Petugas Kesehatan Hewan Kabupaten/Kota bagik Petugas yang ada di Dinas Kabupaten/Kota, UPT Kecamatan atau lapangan maupun Puskeswan untuk melaporkan setiap kejadian penyakit hewan, pengiriman dan pengujian ke laboratorium, diagnosa penyakit hewan dan pelayanan kesehatan hewan seperti pengobatan, vaksinasi, surveilans melalui iSIKHNAS. Dan dalam rangka UPSUS SIWAB iSIKHNAS telah dikembangkan untuk pelaporan kegiatan seperti IB, PKB, Kelahiran, Gangguan Reproduksi dan penangangannya, kartu ternak, distribusi semen cair/straw, distribusi N2 Cair. Diharapkan pelaporan ke iSIKHNAS akan memudahkan pemantauan pelaksanaan UPSUS SIWAB khususnya dalam menghitung S/C, CI dan CR serta kendala-kendala lainnya.

 

  1. Bidang Pengembangan Kawasan dan Usaha Peternakan
  • Permasalahan dalam budidaya ternak yang dilakukan oleh peternak adalah keterbatasan pakan terutama pakan hijauan berkualitas serta harga pakan yang semakin lama semakin mahal akibat persaingan dalam mengakses bahan pakan yang umumnya berbasis serelia, biji-bijian dan limbah agro industri. Sehingga pemenuhan hijauan pakan ternak berkualitas dan penambahan pakan konsentrat merupakan salah satu upaya yang bertujuan untuk meningkatkan produktivitas ternak baik dari segi pertambahan berat badannya maupun perbaikan reproduksinya.
  • Asuransi usaha ternak sapi potong (AUTS) merupakan program nasional jasa asuransi ternak sapi potong bekerjasama dengan Jasindo dengan besaran premi per tahun Rp.200.000 dimana Rp.160.000 disubsidi oleh anggaran APBN, sedangkan Rp.40.000 ditanggung oleh peternak. Dengan terealisasinya asuransi ternak sapi, akan memberikan perlindungan atas risiko kematian sapi karena penyakit hewan, kecelakaan dan melahirkan, serta sapi hilang karena kecurian. Asuransi ini juga memberikan perlindungan terhadap risiko kerugian baik bagi peternak maupun perbankan.

 

  1. Bidang Pasca Panen dan Kesmavet
  • Salah satu faktor penghambat laju pertumbuhan populasi adalah terjadinya tindakan pemotongan sapi betina produktif yang semakin kurang terkendali sebagai akibat ketidakseimbangan supplay-demand sapi potong dalam negeri serta adanya desakan kebutuhan ekonomi bagi peternak, sehingga sapi betina produktif yang dimilkinya diperjualbelikan karena harga sapi betina lebih murah dari sapi jantan. Untuk itu, diperlukan kegiatan penyelamatan betina produktif melalui penyelamatan sekaligus pengawasan dan pencegahan pemotongan sapi betina produktif secara efektif baik di sektor hulu (peternak/kelompok ternak, pengepul ternak dan pasar hewan) dan hilir (RPH). Semua sapi betina yang akan dipotong wajib memiliki Surat Keterangan Status Reproduksi (SKSR).
  • Pengawasan dalam rangka pengawalan pencegahan pemotongan betina produktif dilakukan oleh Tim Terpadu Penyelamatan Betina Produktif dengan Kepolisian yang dibentuk di Tingkat Pusat, Provinsi dan kabupaten/Kota, dengan adanya MoU antara Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dengan Kepolisian Republik Indinesia yang ditindaklanjuti di Provinsi dan Masing-Masing Kabupaten/Kota. Pengawasan pemotongan betina produktif mengacu pada Undang-Undang No. 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan (pasal 85 dan 86) untuk segera ditindaklanjuti dengan Peraturan Daerah baik di Tingkat Provinsi ataupun masing-masing Kabupaten/Kota.

 

  1. Bidang Perbibitan dan Budidaya Peternakan
  • Salah satu langkah percepatan peningkatan populasi sapi menuju 2juta ekor di Kalimantan Timur dengan Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (UPSUS SIWAB) dengan target 18.942 ekor akseptor melalui inseminasi buatan (IB) dan target kebuntingan 65% dari akseptor atau sebanyak 12.312 ekor, sedangkan target APBN TP sebesar 15.272 ekor akseptor, kebuntingan 9.927 ekor. Sehingga 3.670 ekor akseptor merupakan kewajiban daerah untuk merealisasikannya.
  • UPSUS SIWAB merupakan kegiatan terintegrasi yang melibatkan kepentingan banyak pihak, untuk itu sinergitas stakeholder sangat diperlukan untuk suksesnya kegiatan.
  • Bantuan kepada kelompok peternak baik dana yang berasal dari APBN, APBD maupun ASPIRASI mengacu pada prosedur penyaluran yang telah ditetapkan, kelompok penerima manfaat harus terdaftar dan telah mengajukan e-proposal untuk kemudian diseleksi melalui proses CKCL dan verifikasi.

 

  1. UPTD Laboratorium Kesehatan Hewan dan Kesmavet
  • UPTD Laboratorium Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteriner Provinsi Kalimantan Timur telah diakui keberadaan dan fungsinya dalam menunjang pengembangan peternakan dan peningkatan status kesehatan hewan dan masyarakat serta penjaminan produk asal ternak yang Aman, Sehat, Utuh dan Halal (ASUH). Dengan diakuinya beberapa uji, laboratorium ini mendapatkan pengakuan dari Komite akreditasi nasional (KAN) dan menerima sertifikat akreditasi pada tanggal 26 November 2014 melalui sertifikasi ISO-17025;2008 dengan masa berlaku 2014-2018. Dalam  mempertahankan Akreditasi Laboratorium diperlukan: 1).komitmen yang kuat antara pimpinan UPTD Laboratorium dengan pimpinan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur; 2).tersedianya anggaran untuk Re-Asesmen yang cukup pada Tahun 2018 dan harus ditetapkan pada Tahun 2017; dan 3).manajemen waktu.Untuk itu, yang harus dipertahankan adalah Sertifikat Akreditasi Lab.pengujian LP-862-IDN danPengakuan Kompetensi Lab. Pengujian

 

  1. UPTD PIB Api-api
  • Pembibitan dan Inseminasi Buatan Api-Api Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur telah memproduksi semen beku yang berkualitas dalam rangka meningkatkan jumlah dan produktifitas ternak unggul melalui inseminasi buatan.Kualitas Semen beku yang diproduksi harus memenuhi standar mutu yang harus dipertahankan mulai dari tingkat produksi sampai di tingkat peredaran kepada pengguna. Mutu semen beku dipengaruhi oleh faktor-faktor antara lain manajemen pemeliharaan pejantan, cara produksi dan penanganan semen beku sampai dengan saat pelaksanaan IB. Persyaratan teknis untuk sertifikasi SNI semen beku umur produktif Bull minimal 3 tahun dan maksimal 7 tahun. Semen beku produksi UPTD. Pembibitan dan Inseminasi Buatan Api-Api telah diuji ke laboratorium yang terakreditasi(unit produksi/Balai Inseminasi Buatan (BIB) yang telah menerapkan sistem manajemen mutu (ISO 9001:2008) dan laboratorium yang telah menerapkan ISO 17025 : 2008) dan hasilnya sudah sesuai Standar Nasional Indonesia (SNI) dan layak untuk diedarkan

 

Samarinda,  01 Maret 2017

 

Tim Perumus

 

MATERI RAKONTEKDA BAGIAN 1

MATERI RAKONTEKDA BAGIAN 2

MATERI RAKONTEKDA BAGIAN 3

MATERI RAKONTEKDA BAGIAN 4

MATERI RAKONTEKDA BAGIAN 5

MATERI RAKONTEKDA BAGIAN 6                 

                                                                   



Kembali
Selamat Datang Di Website Resmi Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur | Flashnews >>> Disnak Kaltim Raih Juara 3 Lomba Website Tingkat Nasional Tahun 2015 -- Gubernur: Swasta Harus Dukung 2 Juta Sapi -- Kaltim Terima 10.000 Sapi Indukan Brahman Cross | Sapi Potong (BH) Rp. 46.000,- / Kg/BH Update: 18 Juli 2017 Tempat: RPH Samarinda | Broiler Hidup (1 kg) Rp. 20.500,- / Kg/BH Update: 18 Juli 2017 Tempat: Peternak | Telur Itik Rp. 2.500,- / Butir Update: 18 Juli 2017 Tempat: Pasar | Kambing (BBH) Rp. 50.000,- / Kg/BH Update: 18 Juli 2017 Tempat: Pedagang | Ayam Buras (1,5 kg) Rp. 107.500,- / Ekor Update: 18 Juli 2017 Tempat: Pasar | Daging Sapi Murni Rp. 125.000,- / Kg Update: 18 Juli 2017 Tempat: Pasar | Telur Ayam Ras Rp. 1.500,- / Butir Update: 18 Juli 2017 Tempat: Pasar | Telur Ayam Kampung Rp. 2.000,- / Butir Update: 18 Juli 2017 Tempat: Pasar | Itik Rp. 65.000,- / Ekor Update: 18 Juli 2017 Tempat: Pasar | Daging Kambing Rp. 140.000,- / Kg Update: 18 Juli 2017 Tempat: Pasar