img
img

Dinas Peternakan

Provinsi Kalimantan Timur

Rapat Kerja Nasional Pembangunan Pertanian Tahun 2015

Rabu, 03 Desember 2014

 

Rapat kerja nasional pembangunan pertanian tahun 2015, dilaksanakan pada tanggal 17 s/d 18 Nopember 2014, bertempat di Auditorium Gedung F Kementrian Pertanian, dengan tema “ Pembangunan Pertanian Menjadi Penggerak Ekonomi Rakyat dan Terwujudnya Kedaulatan Pangan”. Pembukaan Raker tersebut, dilakukan oleh Mentri Koordinator perekonomian, yang dihadiri :

  1. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian
  2. Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas
  3. Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat
  4. Menteri Perdagangan
  5. Direktur Utama Perum Bulog
  6. Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi
  7. Direktur Utama PT PIHC, PT SHS dan PT Pertani
  8. Para Pejabat Eselon I dan II lingkup Kementerian Pertanian
  9. Kepala Bappeda Provinsi se-Indonesia
  10. Kepala Dinas/Badan lingkup Pertanian Provinsi se-Indonesia
  11. Kepala Dinas lingkup Pertanian Kabupaten Sentra Produksi Padi;

Dalam sambutannya Mentri Pertanian memprioritaskan pada program Presiden Joko Widodo, dalam 100 hari kabinet kerja, yaitu :

  1. Menjamin pemenuhan kebutuhan dan jaminan kualitas air untuk kehidupan sehari-hari bagi masyarakat.
  2. Pemenuhan kebutuhan air untuk kebutuhan sosial dan ekonomi produktif
  3. Meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam mengurangi risiko daya rusak air termasuk perubahan iklim.

 

ARAH KEBIJAKAN:

  • Menjamin pemenuhan kebutuhan dan jaminan kualitas air untuk kehidupan sehari-hari bagi masyarakat.
  • Pemenuhan kebutuhan air untuk kebutuhan sosial dan ekonomi produktif
  • Pemeliharaan dan pemulihan sumber air dan ekosistemnya
  • Meningkatkan ketangguhan masyarakat dalam mengurangi risiko daya rusak air termasuk perubahan iklim

 

Pada sektor pertanian, peternakan, perkebunan memiliki peran strategis dalam menggerakan perekonomian nasioanl. Pada RPJMN 2010 s/d 2014, sector pertanian masih menjadi sector penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Peran  stategis sector pertanian digambarkan dalam kontribusi nyata sector pertanian dalam penyedia bahan pangan dan bahan baku industry kecil dan menengah.

 

Kebijakan pembangunan pertanian kedepan perlu disesuaikan terkait dengan cakupan pembangunan pertanian yang lebih luas dan dan skala yang lebih meningkatkan pendapatan dan kesejahtraan petani

 

VISI & MISI  PEMBANGUNAN 2015-2019

 

VISI : TERWUJUDNYA INDONESIA YANG BERDAULAT, MANDIRI DAN

BERKEPRIBADIAN BERLANDASKAN GOTONG ROYONG

 

MISI: 1.        Mewujudkan keamanan nasional yang mampu menjaga kedaulatan wilayah, menopang kemandirian ekonomi dengan mengamankan sumber daya maritim, dan mencerminkan kepribadian Indonesia sebagai negara kepulauan.

  1. Mewujudkan masyarakat maju, berkeseimbangan dan demokratis berlandaskan Negara Hukum.
  2. Mewujudkan politik luar negeri bebas aktif dan memperkuat jati diri sebagai negara maritim
  3. Mewujudkan kualitas hidup manusia Indonesia yang tinggi, maju dan sejahtera
  4. Mewujudkan Indonesia yang berdaya saing
  5. Mewujudkan Indonesia menjadi negara maritim yang mandiri, maju, kuat, dan berbasiskan kepentingan nasional
  6. Mewujudkan masyarakat yang berkepribadian dalam kebudayaan

 

 9 PRIORITAS PEMBANGUNAN (NAWACITA)

  1. Menghadirkan kembali negara untuk melindungi segenap bangsa dan memberikan rasa aman pada seluruh warga negara
  2. Membangun tata kelola pemerintahan yang bersih, efektif, demokratis dan terpercaya
  3. Membangun Indonesia dari pinggiran dengan memperkuat daerah-daerah dan desa dalam kerangka negara kesatuan
  4. Memperkuat kehadiran negara dalam melakukan reformasi sistem dan penegakan hukum yang bebas korupsi, bermartabat dan terpercaya
  5. Meningkatkan kualitas hidup manusia indonesia
  6. Meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar internasional
  7. Mewujudkan kemandirian ekonomi dengan menggerakan sektor-sektor strategis ekonomi domestik
  8. Melakukan revolusi karakter bangsa
  9. Memperteguh ke-bhineka-an dan memperkuat restorasi sosial indonesia

 

Sesuai Nawa Cita, pembangunan pertanian untuk mewujudkan kedaulatan pangan berbasis agribisnis kerakyatan, melalui:

(1)         Kebijakan pengendalian impor pangan

(2)       Pembangunan irigasi, bendungan, sarana jalan, dan transportasi, serta pasar.

(3)       Rehab jaringan irigasi yang rusak untuk 3 juta ha lahan pertanian, dan 25 bendungan sampai tahun 2019.

(4)       Pencanangan 1.000 desa berdaulat benih sampai tahun 2019.

(5)       Subsidi pangan dan subsidi petani.

 

 

 

 

 

 

PERMASALAHAN DAN STRATEGI PENCAPAIAN TARGET SWASEMBADA :

  • Konversi lahan pertanian ke non pertanian sebesar 100-110 ribu per tahun
  • Infrastruktur jaringan irigasi dalam keadaan rusak 3,3 juta ha (49,9%)
  • Jumlah rumah tangga petani turun, dari 31 juta rumah tangga tani tahun 2003 menjadi 26 juta rumah tangga tahun tahun 2013
  • Tingkat kehilangan hasil panen dan pasca panen cukup tinggi, 10,82%
  • Perubahan iklim yang berakibat kekeringan, banjir, dan serangan hama
  • akses petani terhadap pembiayaan terbatas
  • kelembagaan petani dan pertanian belum berfungsi optimal
  • koordinasi instansi terkait belum optimal.

 

Kementerian Pertanian akan melakukan program pencapaian swasembada padi, jagung, dan kedelai melalui rehab jaringan irigasi 1 juta ha per tahun dan penyediaan benih, alsintan, pupuk dan penyuluhan, Kondisi irigasi:

(1)      Berdasarkan data dari Kemen PU&Pera, luas areal irigasi 7,1 juta ha terdiri dari: (1) kewenangan pusat 2,3 juta ha,(2) kewenangan provinsi 1,1 juta ha, dan (3) kewenangan kabupaten/kota 3,7 juta ha. 

(2)       Jaringan irigasi akan direhab 1 juta ha pada tahun 2015 terdiri dari:(1) kewenangan pusat 143,1 ribu ha, (2) kewenangan provinsi 281,6 ribu ha, dan (3) kewenangan kabupaten/kota 575,4 ribu ha.

(3)       Program Rehabilitasi Jaringan Irigasi dengan dukungan benih, pupuk, alsintan dan penyuluhan, akan diperoleh produksi padi 73,40 juta ton GKG, sehingga surplus beras 9,63 juta ton dengan asumsi tingkat konsumsi 124,89 kg/kapita/tahun.

TARGET SWASEMBADA PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI, SERTA PENINGKATAN PRODUKSI GULA, DAN DAGING

  • Padi 73,40 juta ton GKG, jagung 20,00 juta ton, kedelai 1,20 juta ton, gula 2,95 juta ton, dan daging 0,52 juta ton.
  • Kebutuhan : Padi = 31,49 juta ton; Jagung = 15,11 juta ton; Kedelai = 2,24 juta ton; Gula = 2,84 juta ton; Daging sapi = 0,42 juta ton
  • Impor : Beras = 0,31 juta ton; Jagung = 2,16 juta ton; Kedelai = 1,67 juta ton; Gula = 0,15 juta ton; Daging sapi = 0,06 juta ton.

 

LANGKAH OPERASIONAL PENCAPAIAN TARGET SWASEMBADA PADI, JAGUNG, DAN KEDELAI, SERTA PENINGKATAN PRODUKSI GULA, DAN DAGING 

Padi                     :   rehab jaringan irigasi primer dan sekunder 1 juta Ha (oleh Kementerian PU dan Perumahan Rakyat; rehab jaringan irigasi tersier 1,46 juta Ha; subsidi benih padi, pupuk, traktor R2, traktor R4, alsintan pasca panen.

Jagung                :   benih hibrida, pupuk, pengembangan dryer, penumbuhan pabrik pakan mini di sentra produksi, peningkatan penyerapan jagung lokal oleh industri pakan.

Kedelai                :   pengembangan sistem benih unggul, pupuk, dan keterkaitan industri tahu-tempe dan pakan ternak.

Gula                     :   penyediaan benih tebu,bongkar dan rawat ratoon, revitalisasi pabrik gula, pengembangan investasi.

Daging                 :   peningkatan produksi dan distribusi semen beku, gertak birahi dengan hormon PGF2,inseminasi buatan (IB) dan larangan pemotongan betina produktif.

 

 

 

HAL-HAL YANG HARUS DIPERHATIKAN

  1. IRIGASI
  • Perbaikan jaringan 1 juta ha
  • Pada tahap awal diprioritaskan jaringan irigasi yang rusak ringan
  • Perbaikan Jaringan irigasi tersier harus terkoneksi dengan perbaikan jaringan irigasi primer dan sekunder
  • Pemeliharaan saluran harus dilakukan secara rutin

 

  1. BENIH
  • Pemberian bantuan benih dilaksanakan mengacu prinsip 6 tepat (waktu, jenis, jumlah, mutu, harga, & lokasi)
  • Pentingnya pemberdayaan penangkar benih lokal
  • Diperlukan dukungan  PT SHS dan PT Pertani dalam penyediaan benih

 

  1. ALSINTAN
  • Bantuan alsintan diberikan untuk mengatasi kelangkaan tenaga kerja
  • Peningkatan kapasitas alsintan utk pra tanam, tanam, pasca panen
  • Perlu distribusi alsintan di sentra produksi
  • Pentingnya kelembagaan alsintan (contoh: UPJA)

 

  1. PUPUK
  • Pemberian bantuan pupuk dilaksanakan mengacu prinsip 6 tepat (waktu, jenis, jumlah, mutu, harga, & lokasi)
  • Permasalahan distribusi harus segera diselesaikan
  • Pentingnya penguatan pengawasan distribusi
  • Percepatan pengembangan pupuk organik

 

  1. Pertemuan Apresiasi Pengembangan Budidaya Unggas Lokal

 

Pelaksanan Pertemuan Apresiasi Pengembangan Budidaya Unggas Lokal, dilaksanakan pada tanggal 19 s/d 20 Nopember 2014, bertempat di Kementrian Pertanian, Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, ruang rapat utama I, Lantai 6 Gedung C, Jl. Harsono RMNo. 3 Pasar Minggu Jakarta Selatan. Acara tersebut dibuka oleh Direktur Budidaya Ternak ( Ir. Fauzi Luthan), Peserta yang hadir mengikuti Petemuan tersebut terdiri dari unsur-unsur daerah yaitu dinas yang membidangi fungsi-fungsi peternakan dan kesehatan hewan di 31 Provinsi, 7 Kabupaten/Kota, serta para Kasubdit lingkup Direktorat Budidaya Ternak dan Kasubag Tata Usaha Direktorat Budidaya Ternak.

 

Adapun narasumber dalam Apresiasi tersebut adalah :

-     Balitnak Ciawi Bogor, Jawa barat, Dr.Ir. Tike Sartika,M.Sc. dengan materi Penyedian DOC danpulet dalam pengembangan budidaya unggas lokal.

-     Kepala UPTD Jatiwangi Jawa Barat, Ir. Mita Rukmita, dukungan UPTD dalam kegiatan pengembangan unggas lokal.

-     PT. Ayam Kampung Indonesia (AKI), dengan materi Kesiapan stakeholder dalam pengembangan budidaya unggas lokal.

-     Ketua HIMPULI, Drs. Ade M.Zulkarnaen, dengan materi Peran HIMPULI dalam pengembangan kelembagaan peternak unggas lokal.

-     Dinas Peternakan Kabupaten Bogor Jawa Barat dengan materi Pemanfaatan RRMC dalam penembangan budidaya unggas lokal.

 

 

Tujuan dari pertemuan apresiasi budidaya ayam ras adalah :

  1. Untuk mengevaluasi kegiatan pengembangan budiddaya unggas lokal dan aneka ternak tahun 2014.
  2. Koordinasi dengan instansi, dinas yang membidangi fungsi peternakan dan kesehatan hewan Provinsi/Kabupaten/Kota.
  3. Memperoleh informasi dan permasalahan-permasalahan dalam melaksanakan kegiatan dilapangan yang akan dipertimbangkan sebagai bahan masukan dalam menentukan kebijakan di tahun 2015, meningkatkan pemahaman dan saling tukar informasi bagi petugasteknis dalam usaha budidaya ayam lakas.

Berdasarkan arahan dari Direktur Budidaya ternak dalam pertemuan tersebut bahwa kondisi pangan asal ternak diIndonesia saat ini masih menunjukan kekukangan dalam pemenuhan daging dari dalam negeri, terutama untuk komoditas daging sapi, daging kerbau, daging kambing/domba, dan susu. Untuk kebutuhan daging dan telur unggas ras dapat dipenuhi dari dalam negeri (surplus) namun rantai proses produksi komoditas ini dikuasai beberapa perusahaan besar saja.

Dengan potensi yang besar unggas lokal belum diberdayakan secara maksimal oleh masyarakat. Ketersedian bibitunggas lokal yangberkualitas diberbagai daerah sangat mempengaruhi perkembangan populasi, selain harga pakan dan ketersedian bahan pakan lokal membuat peternak sangat tergantung dari pakan pabrik.

Perunggasan merupakan komodite yang secara riil mampu berperan dalam pembangunan nasional. Selain sebagai penyedia protein hewani yang mutlak diperlukan dalam pembangunan kesehatandan kecerdasan bangsa, sektor perunggasan juga memiliki peran yang penting dalam membangun perekonomian nasional.

Pengembangan unggas lokal (ayam,itik),aneka ternak (kelinci, puyuh) dan monogastrik (babi) merupakan program Kementrian Pertanian dalam hal ini Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan dalam rangka mendukung pencapaian swasembada daging sapi dan peningkatan penyedian pangan hewani.

Berdasarkan data stasistik peternakan dan kesehatan hewan tahun 2014, saat ini populasi ayam lokal tahun 2013 meningkat sebesar 276,78 juta ekor(peningkatan 0,81%).Populasi aneka ternak tahun 2013 secara umum juga mengalami peningkatan, dimana komoditi puyuh sebesar 1,14 juta ekor (peningkatan 5,79%), sedangkanuntuk ternak kecil khususnya babitahun 2013 mengalami penurunan jumlah populasi sebesar 7,60 juta ekor (penurunan 3,82%).

Sebanyak 12,5 juta jiwa masyarakat Indonesia kehidupan ekonominya bergantung pada usaha perunggasan, ini membuktikan bahwa sektor perunggasan tidak dapat diremehkan, apalagi ditengah kondisi perekonomian bangsa yang memburuk tentunya usaha peternakan ayam lokal bisa menjadi satu alternatif dalam upaya penyedian lapangan kerja.

Ternak ayam lokal, kelinci, puyuh masih berpotensi untuk lebih dikembangkan,karena memiliki potensi dan keunggulan yang dimiliki antara lain dengan tersedianya :

-     tenaga kerja dalam jumlah yangbesar dan murah

-     bibit ternak yang tidak perlu diimpor

-     sumber bahan pakan lokal yang melimpah

 



Kembali
Selamat Datang Di Website Resmi Dinas Peternakan Provinsi Kalimantan Timur | Flashnews >>> Disnak Kaltim Raih Juara 3 Lomba Website Tingkat Nasional Tahun 2015 -- Gubernur: Swasta Harus Dukung 2 Juta Sapi -- Kaltim Terima 10.000 Sapi Indukan Brahman Cross | Sapi Potong (BH) Rp. 46.000,- / Kg/BH Update: 21 Maret 2017 Tempat: RPH Samarinda | Broiler Hidup (1 kg) Rp. 19.500,- / Kg/BH Update: 21 Maret 2017 Tempat: Peternak | Telur Itik Rp. 2.500,- / Butir Update: 21 Maret 2017 Tempat: Pasar | Kambing (BBH) Rp. 50.000,- / Kg/BH Update: 21 Maret 2017 Tempat: Pedagang | Ayam Buras (1,5 kg) Rp. 125.000,- / Ekor Update: 21 Maret 2017 Tempat: Pasar | Daging Sapi Murni Rp. 125.000,- / Kg Update: 21 Maret 2017 Tempat: Pasar | Telur Ayam Ras Rp. 1.500,- / Butir Update: 21 Maret 2017 Tempat: Pasar | Telur Ayam Kampung Rp. 2.000,- / Butir Update: 21 Maret 2017 Tempat: Pasar | Itik Rp. 65.000,- / Ekor Update: 21 Maret 2017 Tempat: Pasar | Daging Kambing Rp. 140.000,- / Kg Update: 21 Maret 2017 Tempat: Pasar