feed http://peternakan.kaltimprov.go.id/ http://peternakan.kaltimprov.go.id/ Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur id-ID nizar@numesa.co.id Copyright 2017 http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/logo.png W3Schools.com http://peternakan.kaltimprov.go.id/ 433 PDHI Menggelar Seminar 1 Hari Penyakit Viral Anjing dan Kucing http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/433/pdhi-menggelar-seminar-1-hari-penyakit-viral-anjing-dan-kucing.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/433/pdhi-menggelar-seminar-1-hari-penyakit-viral-anjing-dan-kucing.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/ Samarinda. Perhimpunan Dokter Hewan Indonesia (PDHI) cabang Kaltim 1 terus berupaya meningkatkan kemampuan para anggotanya dalam penanganan penyakit hewan. Salah satunya menggelar seminar sehari terkait mengenal lebih jauh penyakit viral pada hewan peliharaan seperti kucing dan anjing.

Ketua PDHI cabang Kaltim Subagyo mengakui, wawasan dan kemampuan para dokter hewan di kaltim perlu ditambah seiring terus berkembangnya penyakit pada hewan kesayangan. “Selalu saja anggota mendapatkan kasus baru pada penyakit hewan, baik kucing maupun anjing yang disebabkan oleh virus”, katanya di aula DInas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim, Sabtu (25/11).

Menurut dia, berbagai upaya dilakukan melalui vaksinasi maupun sanitasi, tetapi penyakit akibat virus pada anjing dan kucing itu selalu muncul bahkan tidak pernah habis sebab bermutasi.

Dijelaskannya selama ini, masyarakat hanya mengetahui penyakit hewan kesayangan akibat virus yaitu rabies. Padahal, masih banyak penyakit kucing dan anjing disebabkan virus berbahaya. Bahkan, bisa menyebabakan kondisi fatal kalua tidak ditangani dengan segera, sama halnya penyakit manusia.

“Sampai detik ini pun, kasus itu ada terus di hewan kesayangan. Seperti virus panleukopenia yang banyak menyerang kucing”, jelasnya. Subagyo menambahkan, kesadaran masyarakat masih rendah untuk memeriksakan ataupun memvaksin hewan kesayangannya agar terhindar dari berbagai virus penyakit termasuk rabies.

Seminar sehari menghadirkan narasumber Slamet Raharjo (Dosen Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Gajah Mada Jogjakarta). Kegiatan ini diikuti 60 dokter hewan yang bertugas/berdinas di instansi pemerintah khususnya Samarinda, Balikpapan, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Bearu, Bontang serta pemprov Kaltim. (yans/sul/ri/adv/waz/k11)

Dikutip dari Koran Kaltimpost edisi Senin, 27 November 2017 hal. 2.

]]>
2017-11-27
432 Disnak Keswan Pacu Upsus Siwab Kaltim http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/432/disnak-keswan-pacu-upsus-siwab-kaltim.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/432/disnak-keswan-pacu-upsus-siwab-kaltim.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/ Samarinda (ANTARA Kaltim) - Pemerintah Provinsi Kaltim melalui Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (Disnak Keswan) terus memacu pertumbuhan dan pertambahan ternak di daerah setempat. Kegiatan yang dilakukan adalah upaya khusus (Upsus) sapi indukan betina wajib bunting (Siwab) terhadap sapi-sapi betina produktif.

"Tahun ini kita terus pacu pelaksanaan Upsus Siwab, sehingga tidak ada lagi sapi-sapi indukan betina produktif yang menganggur (tidak bunting)," kata Kepala Disnak Keswan Kaltim Dadang Sudarya, Rabu (8/11).

Kegiatan lapangan yang dilaksanakan petugas Keswan agar sapi betina produktif bunting yakni melakukan inseminasi buatan  (IB/suntik birahi) maupun kawin alami.

Namun Dadang mengakui IB lebih dominan dilakukan terhadap sapi indukan produktif daripada kawin alami.

IB lebih prioritas dilakukan ujarnya, untuk mengantisipasi sulitnya sapi betina produktif untuk kawin secara alami selain keterbatasan jumlah sapi jantan unggul.

Namun demikian lanjut Dadang, stroll atau benih sperma pada IB merupakan hasil stroll dari sapi jantan unggul yang sudah terpilih secara genetik memang bibit unggul.

Dia menyebutkan program  Kementerian Pertanian khususnya Dirjen Peternakan Keswan pada tahun 2017 secara nasional menargetkan sekitar 4 juta ekor sapi indukan betina wajib bunting.

Dari jumlah tersebut ungkapnya, ditarget 60 persen dari sapi indukan yang di IB dalam kurun satu tahun sudah bisa melahirkan.
Sedangkan target untuk Kaltim mengikuti program IB sekitar 18.942 ekor dan minimal 80 persennya sudah melahirkan pada kurun waktu setahun kemudian.

"Selain populasi ternak sapi juga swasembada daging akan dicapai Kaltim kalau program Upsus Siwab ini berhasil terlaksana di seluruh kabupaten dan kota," harap Dadang.

Dia menambahkan percepatan populasi sapi melalui Upsus Siwab guna mewujudkan program Gubernur Awang Faroek Ishak agar Kaltim memiliki populasi mencapai  2 Juta Sapi. (Humas Prov Kaltim/yans)

Sumber: Antara Kaltim

Editor: Rahmat

]]>
2017-11-22
431 NTP Peternakan Kembali Mengalami Penurunan http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/431/ntp-peternakan-kembali-mengalami-penurunan.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/431/ntp-peternakan-kembali-mengalami-penurunan.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/4213668885a012f7e91a7c.90.jpg Samarinda. Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) untuk bulan Oktober wilayah Kaltim kembali mengalami penurunan, yaitu dari 104,45 di bulan September 2017 menjadi 103,20 di bulan Oktober 2017 atau turun sebesar 1,20 persen dari bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan karena indeks harga yang diterima oleh petani  mengalami penurunan sebesar 1,36 persen dan indeks yang dibayar oleh petani mengalami penurunan sebesar 0,16 persen dari bulan sebelumnya.

Penurunan It (Indeks yang diterima petani) pada bulan Oktober 2017 disebabkan oleh turunnya indeks di tiga kelompok ternak yaitu kelompok ternak besar sebesar 1,29 persen, kelompok ternak unggas sebesar 1,48 persen dan kelompok hasil ternak sebesar 1,36 persen. Sedangkan kelompok ternak kecil peningkatan 0,42 persen. 

Penurunan pada indeks harga yang dibayar petani (Ib) dipengaruhi oleh indeks kelompok konsumsi rumah tangga dan kelompok BPPBM yang mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,19 persen dan 0,11 persen.

Secara keseluruhan NTP pada Oktober 2017 mengalami kenaikan sebesar 0,61 persen dibandingkan dengan NTP pada bulan September 2017 dari 96,17 pada bulan September menjadi 96,75 pada Bulan Oktober. NTPP (Tanaman Pangan) mengalami peningkatan sebesar 0,76 persen, NTPH (Petani Holtikultura) mengalami penurunan 0,39 persen, NTPR (Perkebunan) mengalami kenaikan sebesar 2,70 persen, NTPT (Peternakan) mengalami penurunan sebesar 1,20 persen, dan subsektor NTPN (Perikanan) mengalami peningkatan sebesar 0,08 persen.  Jika dibandingkan dengan komoditas lainnya, Nilai Tukar Petani untuk peternakan masih yang tertinggi meskipun mengalami penurunan.

NTP  yang  diperoleh  dari  perbandingan  indeks  harga  yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan pada 10 Kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur  (termasuk Provinsi Kaltara) dengan tahun dasar 2012, NTP Provinsi Kalimantan Timur pada Bulan September  2017 sebesar 96,17 yang berarti petani mengalami mengalami defisit/penurunan daya beli, karena kenaikan penerimaan hasil produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga input produksi dan kebutuhan konsumsi rumah  tangganya.

Pada bulan Oktober 2017 terjadi peningkatan NTUP (Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian) sebesar 0,47 persen. Hal ini terjadi, karena It mengalami peningkatan sebesar 0,47 persen, sedangkan Ib kelompok BPPM hanya naik 0,004 persen. Peningkatan NTUP disebabkan oleh naiknya NTUP di dua subsektor yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,59 persen dan subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,50 persen. Sementara itu, tiga subsektor mengalami penurunan yaitu subsektor tanaman holtikultura sebesar 0,48 persen, subsektor peternakan sebesar 1,25 persen dan subsektor perikanan sebesar 0,07 persen.

Sumber: BPS Kaltim

]]>
2017-11-07
430 Libatkan Ahli Peternakan UGM dan IPB http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/430/libatkan-ahli-peternakan-ugm-dan-ipb.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/430/libatkan-ahli-peternakan-ugm-dan-ipb.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/ Tana Paser. Untuk mengejar target pelaksanaan program Upaya Khusus Percepatan Populasi Sapi Bunting (Upsus Siwab) di Paser, Dinas Pertanian terus melakukan berbagai kegiatan. Diantaranya, melakukan kawin suntik atau inseminasi buatan (IB) pada sapi milik peternak di sejumlah kecamatan.

Kepala Dinas Pertanian Paser Boy Susanto menyebutkan, kegiatan UPSUS SIWAB yang digelar mulai 24 - 28 Oktober 2017 lalu, untuk mewujudkan Paser menjadi menjadi kawasan sentra ternak sapi. Berikut, pihkanya juga telah melibatkan Balai Veteriner Banjarbaru dan balai Pembibitan Ternak Unggul Palaihari, Kalimantan Selatan.

Pelaksanaan kegiatan IB, selain melibatkan dokter hewan dan ahli ternak, baik dari Paser maupun Kalsel, juga mendatangkan dua pakar ternak yakni,drh. Surya Agus dari Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta dan Dr. drh. Amrozi dari fakultas Kehewanan Institut Pertanian Bogor (IPB).

"Tujuannya agar sapi milik peternak menjadi bunting, sehingga lahir sapi baru yang akan menambah populasinya, jika melihat angka dari Badan Pusat Statistik. Ketersediaansapi kita masih surplus di angka sekitar 21.154 ekor. Sedangkan angka kebuntingan ternak selama program ini sebanyak 933 ekor telah dinyatakan bunting", kata Boy kemarin (1/11).

Dengan kegiatan tersebut, petugas maupun peternak termotivasi dalam pelaksanaan Upsus Siwab, yang salah satunya melalui penerapan teknologi IB. Kecamatan yang menjadi sasaran Upsus Siwab adalah Tanah Grogot, Kuaro, Paser Belengkong, Batu Engau, Muara Komam dan Long Ikis.

Boy berharap para peternak bisa lebih terampil mengembangkan ternaknya melalui berbagai metode, seperti perkawinan alam atau IB. Jadi, Paser bisa menjadi lumbung ternak sesuai harapan Gubernur. "Jumlah ternak yang telah diinseminasi di Paser sebanyak 686 ekor dan angka kelahiran hingga saat ini 175 ekor", tutupnya. (jib/san/k16)

sumber: kaltim post (edisi kamis, 2 November 2017. Hal 26)

]]>
2017-11-03
429 Target 2 Juta Sapi Bisa Terpenuhi Akhir 2018 http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/429/target-2-juta-sapi-bisa-terpenuhi-akhir-2018.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/429/target-2-juta-sapi-bisa-terpenuhi-akhir-2018.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/152657885359f7f744aab9f.7.jpg SAMARINDA- Diprogramkan sejak 2013 lalu, target populasi 2 juta ekor sapi di Kaltim diyakini bakal tercapai akhir tahun depan. Selain melibatkan peternakan rakyat, program ini juga melibatkan perusahaan perkebunan. Kepala Dinas Peternakan Kaltim Dadang Sudaraya mengatakan, untuk mencapai target itu pihaknya sudah memberlakukan Upaya Khusus Sapi Wajib Bunting (Upsus Siwab). Langkah ini merupakan integrasi antara peternak sapi dengan perkebunan kelapa sawit.

"Tak hanya itu. Perkembangan sapi di lahan bekas tambang batubara juga sudah berjalan", ucapnya kepada Kaltimpost Rabu (25/10). Menurutnya sasaran dari Upsus Siwab di Kaltim dibebani target inseminasi buatan hingga 18.942 akseptor. Tahun ini, ada 9.927 ekor yang dicanangkan, terdiri dari sapi dan kerbau, dan semuanya adalah ternak betina.

"Jika kerjasama dengan perusahaan tambang batubara dengan pola integrasi itu lancar, kami menghitung itu bisa menghasilkan 59.375 ekor per tahun", ungkapnya. Jumlah tersebut, lanjut Dadang didapat dari hasil pendataan lahan tambang yang sudah lama tak berfungsi di seluruh wilayah Kaltim.

Kemudian, melalui kerjasama dengan perusahaan kelapa sawit. Polanya adalah integrasi sapi-sawit. Program ini ditarget bisa menghasilkan 267.188 ekor per tahun. "Tapi dengan cacatan, pemeliharaan sapi berada pada lahan sawit yang sudah cukup umurnya. Sehingga, ternak tidak merusak lahan sawit", tuturnya.

Dia mengatakan, sapi yang dipelihara di lahan sawit akan saling menguntungkan satu sama lain. Kotoran dan urine sapi akan menjadi pupuk sawit. Sementara limbah sawit akan menjadi makanan sapi. Tak berhenti disitu, strategi lain juga dijalankan pemprov kaltim untuk mencapai target 2 juta sapi. Termasuk dengan memaksimalkan jatah dari APBN, maupun APBD provinsi dan kabupaten/kota. Ditambah stimulasi pembiayaan dari perbankan melalui kredit ternak, seperti dari BPD Kaltim dan BRI.

Dinas Peternakan mencatat 2014 lalu ada tambahan anggaran untuk menambah 100 ribu ekor sapi. Dananya dari APBD Provinsi sebanyak 2.500 ekor dan dari APBN menyumbang 1.250 ekor, serta 7.500 ekor dari APBD kabupaten/kota. Lalu, dari BPD Kaltim melalui modal kredit ternak sejahtera yang menghasilkan 12.500 ekor sapi. Serta pembiayaan dari BRI dengan hasil 7.500 ekor.

dari perkembangan sapi di lahan bekas tambang dan integrasi dengan perkebunan sawit. Masing-masing menyumbang 12.500 dan 56.250 ekor. Selanjutnya, pada tahun 2015-2018 nanti ditargetkan ada penambahan 475 ribu ekor per tahun. Sehingga, total pada akhir 2018 akan tercapai populasi sapi di Bumi Etam sebanyak 2 juta ekor sapi.

"Rinciannya, setiap tahun dengan APBD, APBN dan perbankan akan menghasilkan jumlah sapi yang sama setiap tahunnya. Semoga semuanya lancar sesuai target untuk mencapai 2 juta ekor sapi pada akhir 2018", pungkasnya. (*/ctr/man/k15)

Dikutip dari kaltimpost (terbit: 26 Oktober 2017, hal. 33)

]]>
2017-10-31
428 Pemerintah Gelar Jambore Peternakan Nasional 2017 http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/428/pemerintah-gelar-jambore-peternakan-nasional-2017.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/428/pemerintah-gelar-jambore-peternakan-nasional-2017.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/ Cibubur (24/09/2017),_ Sebanyak kurang lebih 1.200 peternak dan stakeholder terkait lainnya sangat antusias mengikuti kegiatan Jambore Peternakan Nasional 2017 di Bumi Perkemahan dan Graha Wisata Cibubur pada hari ini tanggal 24 September 2017 karena berkesempatan untuk bersilaturahim dan melakukan temu wicara dengan Presiden Joko Widodo. Selain itu, yang tidak kalah meriahnya pada acara puncak kegiatan ini juga diisi dengan makan bersama 100 ekor kambing guling yang telah mememecahkan rekor baru Museum Rekor Indonesia (MURI).

Rangkaian kegiatan Jambore Peternakan Nasional 2017 yang sudah dilaksanakan mulai tanggal 22 September sampai dengan hari ini, diisi dengan kontes dan seni ketangkasan Domba Garut, kontes Kambing Kaligesing, eksibisi ternak oleh peternak sapi, ayam lokal, itik, dan kelinci. Sehingga kegiatan ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat sekitar sebagai kegiatan wisata dan edukasi di bidang peternakan.

Rapat Kerja Nasional dan Silaturahmi Nasional Peternak Kambing Domba juga dilakukan untuk melakukan konsolidasi. Penyerahan penghargaan kepada kelompok peternak dan petugas berprestasi juga dilakukan sebagai tindaklanjut dari arahan Bapak Presiden RI untuk memberikan apresiasi kepada peternak dan stakeholders terkait lainnya yang telah berkontribusi dalam pembangunan peternakan dan kesehatan hewan, serta sebagai upaya menarik minat generasi muda untuk menjadi peternak. Selain itu juga dilakukan penyerahan SK (Surat Keputusan) penetapan wilayah sumber bibit dan wilayah bebas penyakit.

Pemerintah melalui Kementerian Pertanian dan Kantor Staf Kepresiden mempunyai maksud tersendiri menggelar Jambore Peternakan Nasonal 2017. Kegiatan ini ingin memberikan pesan bahwa sub sektor peternakan mempunyai peranan penting untuk pemenuhan kebutuhan protein hewani. Pemenuhan protein hewani asal ternak yang bersumber dari daging, telur dan susu, memiliki posisi penting karena menentukan kualitas sumberdaya manusia sebagai agen perubahan. Pemenuhan protein ini sangat berperan dalam menyehatkan dan mencerdaskan anak bangsa.

Jambore ini mengangkat tema “Masyarakat Sehat dan Cerdas dengan Protein Asal Ternak” yang diartikan bahwa peningkatan konsumsi protein hewani asal ternak dapat dimaknai juga sebagai upaya mengoptimalkan pangsa pasar domestik yang sekaligus juga merupakan simbol kebangkitan ekonomi kerakyatan.

Saat ini pemeliharaan sapi, domba dan kambing sebagian besar dilakukan oleh rumah tangga petani, baik sebagai usaha utama maupun merupakan bagian kecil dari suatu usaha terintegrasi, misalnya dengan tanaman pangan atau perkebunan. Hal tersebut merupakan potensi yang cukup besar dalam pengembangan ekonomi kerakyatan, namun disisi lain masih perlu untuk ditingkatkan karena masih banyak yang belum memenuhi skala ekonomis.

Perbaikan usaha peternakan harus secara komprehensif dikembangkan dari hulu sampai hilir, dan penekanan pada proses bisnis sehingga mempunyai nilai tambah dan daya saing yang kuat untuk meningkatkan pendapatan peternak.

Dengan inovasi dan dukungan dunia pendidikan, serta melihat teladan dari para pemenang dan penerima penghargaan hari ini, Pemerintah berharap anak muda Indonesia tertarik dan tertantang untuk menjadi peternak yang penuh inovasi sehingga mempunyai daya saing. Peran Perguruan Tinggi dalam menghasilkan pemuda pemudi yang siap berbisnis dan teknologi/ inovasi tepat guna perlu ditingkatkan.

Pengembangan dan pembenahan kelembagaan kelompok/gabungan kelompok, koperasi, dan asosiasi, menjadi korporasi yang berorientasi bisnis agar lebih mempunyai daya saing dan terjamin keberlanjutan usahanya. Perbaiki tata cara budidaya, panen, pasca panen, pengolahan dan distribusi dengan cara yang baik, serta melakukan inovasi-inovasi dibidang pemasaran, akan meningkatkan nilai tambah bagi Peternak.

Sub tema yang diangkat dalam Jambore Peternakan Nasional ini yaitu “Bangga menjadi Peternak Indonesia” sangat sesuai karena Peternak sebagai ujung tombak pemenuhan kebutuhan protein hewani asal ternak mempunyai peran sangat penting sebagai lokomotif pembangunan.

Dengan menggerakkan motor lokomotif pembangunan peternakan tersebut diharapkan akan terjadi laju pertumbuhan sub sektor peternakan. Sehingga setelah pasar dalam negeri tercukupi, Indonesia akan mengembangkan ke pasar ekspor, seperti ekspor daging dan telur ayam ras, bahkan ekspor untuk kambing domba juga terbuka untuk negara-negara tetangga, sehingga bukan hal yang mustahil, Indonesia menjadi lumbung pangan dunia di tahun 2045.

CP: Ir. Fini Murfiani, MSi (Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Peternakan, Ditjen Peternakan dan kesehatan Hewan Kementerian Pertanian)

Sumber: ditjennak.pertanian.go.id

]]>
2017-10-10
427 Kaltim Dorong Reorganisasi Peternak Unggas Lokal http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/427/kaltim-dorong-reorganisasi-peternak-unggas-lokal.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/427/kaltim-dorong-reorganisasi-peternak-unggas-lokal.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/194274722659db15ec1fefe.img_20171006_wa0013.jpg Samarinda (ANTARA Kaltim) -  Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur melalui instansi terkait mendorong reorganisasi Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) baik di tingkat provinsi maupun kabupaten/kota, sehingga organisasi yang ada sejak 2010 ini bisa bangkit.

"Melalui reorganisasi, diharapkan peternak ayam lokal (ayam kampung) berinovasi mulai industri hulu hingga hilir," ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim Dadang Sudarya, saat pengukuhan pengurus DPW Himpuli Kaltim dan DPD Himpuli Kutai Timur, di Samarinda, Jumat.

Menurutnya, melalui reorganisasi tentu Himpuli Kaltim bisa lebih memberi warna kepada dunia unggas lokal baik di dalam maupun di luar kaltim.

"Artinya, dengan kepengurusan yang saya lihat banyak anak-anak muda, tentu bisa lebih gesit dalam melihat dan memanfatkan semua peluang yang ada, sehingga cita-cita mewujudkan Kaltim mampu berdiri di atas kaki sendiri akan terwujud," katanya.

Ia juga mengatakan bahwa pemerintah tidak menganggap ayam kampung sebagai pelengkap dalam industri perunggasan, atau bukan komoditas yang dianggap strategis untuk ketahanan pangan.

Hal ini ditunjukkan dengan seriusnya pemerintah dalam membina kelompok-kelompok unggas lokal, Pemerintah Pusat melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan telah mengalokasikan dana untuk meningkatkan populasi ayam bukan ras (buras) atau ayam kampung.

Realisasi peningkatan ayam buras ini dilakukan melalui peternak lokal yang potensial untuk mengembangkan ayam buras tersebut, yakni dialokasikan melalui dana APBN di Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim.

"Pada 2011 dialokasikan dana APBN sebesar Rp1,51 miliar berupa dana Bansos untuk 10 kelompok di 10 kabupaten/kota se-Kaltim terhadap kelompok-kelompok unggas. Saat itu dana yang terserap sebesar Rp1,19 miliar," tuturnya.

Kemudian tahun 2012 kembali dialokasikan anggaran untuk pemeliharaan unggas di pedesaan, berupa bansos senilai Rp500 juta bagi empat kelompok berupa kegiatan pembibitan ayam lokal dengan alokasi dana sebanyak Rp75 juta.

Selanjutnya tahun 2013, terdapat program Pengembangan Budidaya Unggas Lokal yang dialokasikan untuk empat kelompok, berupa integrasi ternak unggas sebanyak satu kelompok dengan kegiatan pembibitan ayam lokal untuk dua kelompok.

"Dana tersebut dialokasikan pemerintah untuk dapat meningkatkan skala usaha pengembangan ayam lokal seperti Village Breeding Center (VBC), penguatan peternak ayam lokal, pengembangan kawasan ayam lokal, dan pengembangan unggas perdesaan," kata Dadang. (*)

Pewarta: Ghofar

Editor: Rahmad

Sumber: Antara Kaltim

]]>
2017-10-09
426 HIMPULI Kaltim Didorong Cetak Bibit Ayam Lokal http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/426/himpuli-kaltim-didorong-cetak-bibit-ayam-lokal.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/426/himpuli-kaltim-didorong-cetak-bibit-ayam-lokal.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/123154166859db12b72ea0a.img_20171006_wa0019.jpg Samarinda (ANTARA Kaltim) - Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia atau Himpuli Provinsi Kalimantan Timur didorong giat berinovasi dalam usaha mengembangkan budidaya ayam lokal, sekaligus mencetak bibitnya agar tidak selalu bergantung dari Pulau Jawa.

"Saya lihat di Kaltim memang sudah ada beberapa peternak unggas yang konsentrasi pada ayam lokal namun belum besar, karena salah satu kendalanya adalah pasokan bibit yang harus didatangkan dari Jawa, terutama Jawa Barat," ujar Ketua Dewan Pimpinan Pusat Himpuli Ade M Zulkarnain di Samarinda, Sabtu.

Terkait dengan itu, katanya, melalui reorganisasi DPW Himpuli Kaltim dan Himpuli di kabupaten/kota, maka ke depan kreativitas dalam pengembangan unggas lokal bisa diwujudkan.

Dengan demikian, Kaltim tidak tergantung pasokan bibit ayam dari Jawa, kemudian populasinya meningkat dan harga ayam kampung terjangkau masyarakat luas karena sudah banyak peternak yang mengembangkan.

Jika di Kaltim sudah banyak peternak yang mampu mencetak bibit ayam kampung (ayam lokal), lanjut Ade, pembibitan unggas lokal di Jawa pun tidak akan mati meski pangsa pasar dari Kaltim terhenti, karena selama ini di Jawa masih kewalahan melayani permintaan bibit ayam lokal yang datang dari berbagai daerah.

"Pembibitan ayam lokal di Jawa untuk melayani permintaan bibit dari Jawa saja sudah kewalahan karena begitu banyak yang pesan. Sedangkan jika ada pesanan bibit dari Kaltim, maka harus melalui daftar antre hingga tiga bulan baru bisa terlayani. Untuk itu, jika Kaltim bisa mandiri menyediakan bibit, maka peternakan di Jawa tidak akan mati meski Kaltim tidak beli bibit dari Jawa," tuturnya.

Dorongan terhadap pembibitan ayam lokal terhadap daerah-daerah di Indonesia, termasuk di Kaltim terus dilakukan agar ke depan mampu mandiri demi menuju target Indonesia menjadi tuan rumah di negeri sendiri terkait unggas lokal.

Selain itu, Himpauli juga mengincar pasar yang lebih luas, yakni pasar ekspor ke sejumlah negara seperti Timor Leste, Singapura, dan negara lain yang saat ini sudah dilakukan pendekatan.

Menurutnya, pasar ekspor tersebut akan bisa terealisasi jika semua daerah sudah mampu mandiri dalam pemenuhan konsumsi ayam lokal.

"Untuk itu, Provinsi Kaltim yang lahannya masih luas dan sudah ada beberapa peternak unggas lokal yang berhasil, bahkan di Kabupaten Kutai Timur yang sudah mendapat prestasi nasional, maka menjadi peluang besar untuk melakukan pengembangan sekaligus inovasi produk ayam lokal mulai industri hulu hingga hilir," ujar Ade. (*)

Pewarta: Ghofar

Editor: Didik Kusbiantoro

Sumber: Antara Kaltim

]]>
2017-10-09
425 Pertumbuhan Ayam Ternak Kaltim Stagnan http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/425/pertumbuhan-ayam-ternak-kaltim-stagnan.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/425/pertumbuhan-ayam-ternak-kaltim-stagnan.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/197968283359db1041c3592.img_20171006_wa0013.jpg Samarinda (ANTARA Kaltim) -  Pertumbuhan peternakan ayam lokal (ayam kampung) di Provinsi Kalimantan Timur hingga saat ini tidak mengalami perkembangan alias stagnan, sehingga perlu komitmen pelaku usaha, pemerintah, dan pihak terkait untuk mempercepat pertumbuhannya.

"Bantuan pihak terkait yang dibutuhkan terutama untuk meyakinkan potensi, membantu dalam pemasaran produk-produk unggas lokal dan hal lain yang terkait," ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim Dadang Sudarya di Samarinda, Jumat.

Kendala yang dihadapi pada pasar dan pemasaran, yakni konsumsi masyarakat yang merasakan bahwa unggas lokal atau bukan ras (buras), alias ayam kampung harganya masih lebih mahal ketimbang ayam ras dengan bobot badan yang sama.

Faktanya harga ayam kampung memang lebih mahal, terlebih saat ini pertumbuhan ekonomi sedang lesu dan pendapatan masyarakat kian menurun, sehingga tingkat konsumsi masyarakat juga terbatas untuk membeli bahan pangan murah.

Kondisi ini, lanjutnya, menjadi tantangan dalam membangun berkembangnya usaha unggas lokal di Kalimantan Timur. Untuk itu, ia berharap kerja sama unsur akedemis, unsur pengusaha, dan pemerintah dapat berjalan sinergis dalam mengelola dan membangun usaha unggas lokal di Kaltim.

Menurut dia, kebutuhan daging unggas bagi Kaltim cukup besar sebagai sumber protein, sementara kondisi sekarang masih mengandalkan dari unggas yang lebih banyak dipenuhi dari ayam ras.

Hal itu dikatakan Dadang saat Pengukuhan Pengurus Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Provinsi Kaltim sekaligus Pengurus Himpuli Kabupaten Kutai Timur, di Hotel Amaris Samarinda.

"Di sinilah peran Himpuli dalam upaya pengembangan industri perunggasan lokal di Kaltim, sehingga ke depan ayam lokal terus berkembang pesat dan harganya juga bisa terjangkau masyarakat," tuturnya.

Ia melakukan bahwa perjalanan Himpuli di Kaltim sebenarnya sudah ada sejak tahun 2010, bahkan salah satu anggotanya sempat menjadi Sekjen di DPP Himpuli.

Sedangkan khusus untuk DPW Himpuli Kaltim, perannya memang masih terbatas dalam usaha budidaya ayam, belum sampai aspek hulu maupun hilirnya. Bisa diibaratkan Himpuli secara organisasi, hidup segan mati tak mau.

Kondisi ini, katanya, berbanding terbalik dengan para kelompok atau peternak unggas lokal di Kaltim, terbukti pada tahun 2015 salah satu kelompoknya menjadi yang terbaik di tingkat nasional.

"Kelompok terbaik itu adalah Kelompok Perdau Mandiri dari Kecamatan Bengalon, Kabupaten Kutai Timur yang memperoleh penghargaan sebagai Juara I Lomba Tingkat Nasional kategori Kelompok Unggas Lokal, karena kelompok ini inovatif mulai hulu hingga hilir," ucap Dadang. (*)

Pewarta: Ghofar

Editor: Rahmad

Sumber: Antara Kaltim

]]>
2017-10-09
424 Konsumsi Daging Kaltim Didominasi Ayam Broiler http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/424/konsumsi-daging-kaltim-didominasi-ayam-broiler.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/424/konsumsi-daging-kaltim-didominasi-ayam-broiler.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/195030254859db0f07ef82e.img_20171006_wa0031.jpg Samarinda (Antara Kaltim). Tingkat konsumsi daging oleh warga di Provinsi Kalimantan Timur didominasi dari peternakan unggas berupa ayam broiler yang mencapai 75,8 persen, kemudian ayam buras 6,6 persen dan sisanya berasal dari daging sapi dan lainnya.

\"Daging broiler menjadi salah satu komoditas yang diminati karena selain harganya relatif murah juga mudah diperoleh, apalagi kebutuhan daging broiler di Kaltim sampai kini mampu dipenuhi dari produksi lokal,\" ujar Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim Dadang Sudarya di Samarinda, Jumat.

Meski daging ayam broiler mampu dipenuhi oleh peternak lokal Kaltim, namun Dadang menyatakan Kaltim bisa dikatakan belum swasembada, karena jika dilihat lebih dalam dari sektor hulu, maka broiler tidak swasembada sejati mengingat Grand Parent Stock (GPS) yang memproduksi bibit ayam (DOC) masih diimpor.

Hal itu dikatakan Dadang ditemui setelah acara Pengukuhan Dewan Pimpinan Wilayah (DPW) Himpunan Peternak Unggas Lokal Indonesia (Himpuli) Kalimantan Timur dan DPD Himpuli Kutai Timur, di Hotel Amaris Samarinda.

Menurut dia, meskipun saat ini konsumsi daging ayam buras di Kaltim sudah dapat dipenuhi dari produksi lokal, ia menyatakan hal itu belum swasembada sejati karena Kaltim belum memiliki Breeding penghasil DOC ayam buras, sehingga pemasukkan DOC ke Kaltim masih mencapai 300.000 ekor per tahun.

Ia melanjutkan bahwa saat ini unggas memegang peranan penting dalam pemenuhan protein hewani serta mendukung perekonomian masyarakat.

Data statistik Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kaltim dinyatakan, produksi ayam buras (bukan ras) pada tahun 2015 sebanyak 5.042,6 ton, tahun 2016 naik menjadi 5.271,6 ton (ayam yang dipotong di Kaltim).

Kemudian di tahun 2015 tercatat ada pemasukan DOC ayam buras sebanyak 321.400 ekor dan ternak ayam buras potong sebanyak 73.490 ekor, sedangkan tahun 2016 pemasukan DOC ayam buras sebanyak 202.400 ekor dan ternak ayam buras potong sebanyak 57.270 ekor.

\"Sementara jumlah konsumsi pada tahun 2015 sebanyak 4.790,5 ton sedangkan pada tahun 2016 sebanyak 5.008 ton. Secara supply-demand, produksi lokal masih mencukupi untuk memenuhi kebutuhan, sehingga pada tahun 2015 hingga 2016 tidak ada pemasukan berupa daging ayam buras,\" katanya.

Berbeda dengan produksi itik, tahun 2015 sebanya 79,6 ton dan pada 2016 turun menjadi 79,4 ton, sedangkan konsumsi daging itik tahun 2015 sebanyak 127,5 ton dan di tahun 2016 sebanyak 199,5 ton.

\"Terjadi kekurangan signifikan terhadap pemenuhan daging itik dari produksi lokal, sehingga pada 2015 tercatat terdapat pemasukan daging itik sebanyak 51,9 ton dan pada tahun 2016 mencapai 124,1 ton,\" ucap Dadang. (*)

Editor: Rahmad

Pewarta: Ghofar

Sumber: antara kaltim

]]>
2017-10-09
423 Daya Dukung Pakan di Pulau Kalimantan http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/423/daya-dukung-pakan-di-pulau-kalimantan.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/423/daya-dukung-pakan-di-pulau-kalimantan.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/147124308459d6e9cd242a9.3462685325886aa7fa240b.hijauanpakanternakdilahanekstambangsamarinda.jpg Dukungan pemerintah daerah terhadap pengembangan peternakan menjadi pertimbangan dalam menentukan sentra peternakan. Dukungan pemerintah daerah antara lain berupa masterplan/renaksi peternakan. Hal ini menunjukkan pemerintah daerah tersebut serius dalam pengelolaan peternakan.

Sentra pengembangan peternakan sapi potong nasional menjadi dasar dalam delineasi Peta Potensi Pengembangan Kawasan Peternakan Sapi Potong Nasional. Konsep dasar dalam penyusunan Peta Potensi Pengembangan Kawasan Peternakan Sapi Potong Nasional sebagai berikut:

  1. Penentuan sentra peternakan sapi potong didasarkan daya dukung pakan/biomasa pakan, populasi ternak, infrastruktur peternakan, status penyakit ternak, rumah tangga peternak/RTP, kelembagaan peternakan, dan dukungan masterplan/renaksi peternakan akan menghasilkan kabupaten sentra sapi potong.
  2. Delineasi potensi pengembangan kawasan peternakan sapi potong nasional dihasilkan dari overlay sentra peternakan sapi potong kabupaten dengan daya dukung pakan dan jumlah populasi tinggi dan sedang pada tingkat kecamatan.
  3. Penyebaran potensi pengembangan kawasan peternakan sapi potong berada di luar kawasan hutan dan dataran rendah, yaitu pada ketinggian <700 m dpl. Delineasi kawasan dilakukan dilakukan secara automatik.

Potensi pengembangan kawasan peternakan sapi potong nasional merupakan wilayah pengembangan peternakan sapi potong yang terbangun dalm satu kesatuan konektifitas (kelembagaan dan infrastruktur) yang mencakup wilayah dengan daya dukung pakan potensial yang mendukung dan jumlah populasi ternak cukup banyak.

Potensi daya dukung pakan diperoleh dari hasil kesesuaian lahan pakan ternak, berupa kelas kesesuaian lahan dan memperhatikan penggunaan lahan akan dihasilkan daya dukung pakan dalam ton per hektar. Dari hasil analisis daya dukung pakan ternak dibagi menjadi 3 bagian, yaitu: rendah, sedang dan tinggi.

Pulau Kalimantan (Tabel 1) menunjukkan potensi daya dukung pakan yang tergolong rendah seluas 13.393.996 ha (71,12%), sedang seluas 3.715.976 ha (19.90%) dan tinggi seluas 1.565.615 ha (8,38%). Provinsi yang mempunyai potensi daya dukung pakan ternak tergolong tingggi terdapat di Provinsi Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan dan Kalimantan Barat.

No

Provinsi

Daya Dukung Pakan

Total

Rendah

Sedang

Tinggi

Ha

%

Ha

%

Ha

%

1

Kalimantan Barat

5.048.991

77,32

1.138.664

17,44

341.967

5,24

6.529.702

2

Kalimantan Selatan

1.105.803

57,73

426.406

22,26

383.409

20,01

1.915.719

3

Kalimantan Utara

1.231.915

94,19

55.863

4,27

20.099

1,54

1.307.976

4

Kalimantan Tengah

3.341.490

68,70

1.011.621

20,80

510.873

10,50

4.864.083

5

Kalimantan Timur

2.665.797

65,68

1.083.442

26,70

309.267

7,62

4.058.605

Total

13.393.996

71,72

3.715.976

19,90

1.565.615

8,38

18.676.086

Potensi daya dukung pakan sangat ditentukan oleh satuan lahan, seperti bentukan lahan (landform), bentuk wilayah, iklim dan penggunaan lahan. Penilaian bobot satuan lahan didasari oleh kemampuan lahan dalam menghasilkan sumber pakan ternak, aksesibilitas dan ketersediaan infrastruktur.

Landform alluvium dan vulkanik mempunyai tingkat kesuburan tinggi dibandingkan dengan landform lainnya, sehingga mempunyai daya dukung pakan tinggi. Bentuk wilayah datar sampai berombak (lereng < 8 %) sangat ideal untuk pertumbuhan pakan ternak. Penggunaan lahan sawah, perkebunan, dan padang rumput mempunyai daya dukung sangat tinggi. Kondisi iklim sangat menentukan daya dukung pakan. Wilayah dengan iklim basah mempunyai daya dukung pakan lebih tinggi dari iklim kering. Hal ini terkait dengan ketersediaan air.

Potensi daya dukung pakan di Provinsi Kalimantan Timur tergolong rendah seluas 2.665.797 ha (65,68%), sedang seluas 1.083.442 ha (26,70%) dan tinggi seluas 309.267 ha (7,62%). Daerah yang mempunyai potensi daya dukung pakan ternak tergolong tinggi terdapat di Kabupaten Kutai Kartanegara (144.021 Ha), Kutai Barat (72.927) dan Kutai Timur (67.373).

Penyebaran potensi daya dukung pakan tergolong sedang samapai tinggi umumnya di wilayah dataran volkan dan alluvial dengan bentuk wilayah datar sampai bergelombang (<15%) pada dataran rendah (ketinggian <700 mdpl). Kabupaten Paser dan Penajam Paser Utara mempunyai potensi daya dukung pakan ternak tergolong cukup tinggi, sehingga berpotensi untuk pengembangan peternakan sapi potong.

Sumber: Atlas Peta Potensi Pengembangan Kawasan Peternakan Sapi Potong.

]]>
2017-10-06
422 NTPT Peternakan Mengalami Penurunan http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/422/ntpt-peternakan-mengalami-penurunan.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/422/ntpt-peternakan-mengalami-penurunan.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/141780001059d6d785a99e6.90.jpg Nilai Tukar Petani Peternakan (NTPT) untuk bulan September wilayah Kaltim kembali mengalami penurunan, yaitu dari 104,56 di bulan Agustus 2017 menjadi 104,45 di bulan September 2017 atau turun sebesar 0,1 persen dari bulan sebelumnya. Hal ini disebabkan karena indeks harga yang diterima oleh petani  mengalami penurunan sebesar 0,17 persen dan indeks yang dibayar oleh petani mengalami penurunan sebesar 0,06 persen dari bulan sebelumnya.

Penurunan It (Indeks yang diterima petani) pada bulan September 2017 disebabkan oleh turunnya indeks di dua kelompok ternak yaitu kelompok hasil ternak sebesar 0,16 persen dan kelompok ternak unggas sebesar 0,66 persen. Sedangkan kelompok ternak kecil dan kelompok ternak besar mengalami penurunan sebesar 0,03 persen dan 0,20 persen. 

Penurunan pada indeks harga yang dibayar petani (Ib) dipengaruhi oleh indeks kelompok konsumsi rumah tangga dan kelompok BPPBM yang mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,14 persen dan 0,17 persen.

Secara keseluruhan pada September 2017 terjadi penurunan NTP sebesar 0,46 persen dibandingkan dengan NTP pada bulan Agustus 2017, dari 96,61 pada bulan Agustus menjadi 96,17 pada Bulan September. NTPP (Tanaman Pangan) mengalami peningkatan sebesar 0,28 persen, NTPH (Petani Holtikultura) mengalami penurunan 0,44 persen, NTPR (Perkebunan) mengalami penurunan sebesar 1,96 persen, NTPT (Peternakan) mengalami penurunan sebesar 0,10 persen, dan subsektor NTPN (Perikanan) mengalami peningkata sebesar 0,70 persen.  Jika dibandingkan dengan komoditas pertanian dan perikanan, Nilai Tukar Petani untuk peternakan masih yang tertinggi meskipun mengalami penurunan.

NTP  yang  diperoleh  dari  perbandingan  indeks  harga  yang diterima petani terhadap indeks harga yang dibayar petani (dalam persentase), merupakan salah satu indikator untuk melihat tingkat kemampuan/daya beli petani di pedesaan. NTP juga menunjukkan daya tukar (term of trade) dari produk pertanian dengan barang dan jasa yang dikonsumsi maupun untuk biaya produksi. Semakin tinggi NTP, secara relatif semakin kuat pula tingkat kemampuan/daya beli petani. Berdasarkan hasil pemantauan harga-harga pedesaan pada 10 Kabupaten di Provinsi Kalimantan Timur  (termasuk Provinsi Kaltara) dengan tahun dasar 2012, NTP Provinsi Kalimantan Timur pada Bulan September  2017 sebesar 96,17 yang berarti petani mengalami mengalami defisit/penurunan daya beli, karena kenaikan penerimaan hasil produksi relatif lebih kecil dibandingkan dengan kenaikan harga input produksi dan kebutuhan konsumsi rumah  tangganya.

Pada bulan September 2017 terjadi penurunan NTUP (Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian) sebesar 0,65 persen. Hal ini terjadi, karena It mengalami penurunan sebesar 0,5 persen, sedangkan Ib kelompok BPPM naik 0,10 persen. Penurunan NTUP disebabkan oleh turunnya NTUP di tiga subsektor yaitu subsektor tanaman holtikultura sebesar 0,57 persen, subsektor tanaman perkebunan rakyat sebesar 2,25 persen dan subsektor peternakan sebesar 0,24 persen. Sementara itu, dua subsektor mengalami peningkatan yaitu subsektor tanaman pangan sebesar 0,19 persen dan subsektor perikanan sebesar 0,42 persen.

Sumber: BPS Kaltim

]]>
2017-10-06
421 Perguliran Ternak di PPU Terapkan Model Indukan Bunting http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/421/perguliran-ternak-di-ppu-terapkan-model-indukan-bunting.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/421/perguliran-ternak-di-ppu-terapkan-model-indukan-bunting.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/ Samarinda (ANTARA Kaltim) - Sistem perguliran ternak sapi dari hasil bantuan pemerintah yang diterapkan oleh kelompok ternak di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, menerapkan model setor indukan bunting minimal enam bulan.

\"Jika indukan sudah melahirkan, pedetnya milik penerima awal. Sedangkan indukannya tetap dipelihara sampai bunting enam bulan, baru digulirkan lagi,\" ujar Kabid Perbibitan dan Budidaya Dinas Peternakan Provinsi Kaltim I Gusti Made Jaya Adhi di Samarinda, Kamis.

Ia menjelaskan, sapi jenis brahman cross (BC) bantuan dari pemerintah tahun 2015 yang diberikan kepada peternak, kini sudah banyak yang melahirkan sehingga anak di kelahiran pertama tersebut menjadi milik penerima pertama.

Begitu pula dengan perguliran berikutnya, setelah anaknya lahir akan menjadi milik peternak yang memelihara, sedangkan induknya yang sudah bunting enam bulan, kembali digulirkan kepada peternak lain yang tergabung dalam kelompok ternak.

\"Model seperti ini diharapkan indukan tetap bisa memproduksi anak sampai delapan kali melahirkan bahkan lebih, termasuk untuk memperkecil kemungkinan penjualan induk yang masih produktif,\" tuturnya.

Pada 25 Agustus 2017, pihaknya telah melakukan panen pedet (anak sapi) dan redistribusi di Kelompok Tani Mekar Jaya, Desa Gunung Mulya, Kecamatan Babulu, Kabupaten Penajam Paser Utara.

Panen pedet dan redistribusi itu terdiri dari indukan BC sebanyak 35 ekor, pejantan lima ekor, anak ke-1 ada 28 ekor, dan anak ke-2 sebanyak empat ekor.

Dari panen pedet tersebut, maka anak pertama menjadi milik kelompok asal, yakni Kelompok Tani Mugirejo, Babulu, dengan jumlah anakan sebanyak 28 ekor.

\"Panen pedet dan redistribusi ternak dilakukan untuk mendukung program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) yang merupakan gerakan nasional sebagai lanjutan dari kegiatan tahun sebelumnya, guna mendorong pertumbuhan kelahiran sapi potong,\" ucap Jaya Adhi.

Ia melanjutkan, redistribusi ternak dilakukan terhadap sapi BC yang didistribusikan kepada kelompok tani tahun 2015. Ada penambahan kelompok dari awalnya 15 kelompok menjadi 27 kelompok, setelah dilakukan redistribusi, sehingga terdapat 12 kelompok penerima baru.

Untuk kelompok redistribusi di Kecamatan Babulu adalah Poktan Karya Jaya menerima10 ekor, Istiqomah 21 ekor, Karya Bakti 13 ekor, Mekar Jaya 40 ekor, Karya Baru 21 ekor, Mekar Sari 44 ekor.

\"Kemudian di Kecamatan Sepaku ada Poktan Sri Rejeki 33 ekor, Harapan Maju 24 ekor, Kreatif Mandiri 22 ekor, dan Poktan Rumput Harapan 25 ekor. Sedangkan di Kecamatan Penajam yaitu Poktan Subur Makmur 23 ekor, sehingga total indukan sapi BC yang dilakukan redistribusi sebanyak 251 ekor,\" ujarnya. (*)

Editor: Didik Kusbiantoro

Pewarta: M. Ghofar

sumber: antarakaltim

]]>
2017-09-28
420 Gubernur Harap Perusahaan Wujudkan Dua Juta Ekor Sapi http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/420/gubernur-harap-perusahaan-wujudkan-dua-juta-ekor-sapi.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/420/gubernur-harap-perusahaan-wujudkan-dua-juta-ekor-sapi.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/ Samarinda (ANTARA Kaltim) -  Gubernur Kalimantan Timur Awang Faroek Ishak berharap perusahaan perkebunan kelapa sawit dan tambang batu bara membantu program dua juta ekor sapi yang telah dicanangkan sejak 2013.

"Untuk mewujudkan populasi dua juta ekor sapi, jangan hanya berharap dari pemerintah. Banyak perusahaan perkebunan sawit dan tambang yang bisa membantu untuk mewujudkannya," ujarnya di Samarinda, Jumat.

Melalui kerja sama dengan perusahaan tambang batu bara dengan pola integrasi sapi yang dipelihara di lahan eks tambang, katanya, bisa diwujudkan sebanyak 59.375 ekor per tahun.

Angka ini diperoleh dari hasil pendataan lahan tambang yang sudah lama tidak difungsikan dan tersebar di kabupaten/kota di Kaltim.

Kemudian melalui kerja sama dengan perusahaan perkebunan kelapa sawit dengan pola integrasi sapi-sawit sebanyak 267.188 ekor per tahun, yakni perusahaan sawit memelihara di lahan sawit yang umurnya sudah cukup sehingga sapi tidak bisa merusak tanaman sawit, atau perusahaan sawit bekerja sama dengan peternak.

Melalui sistem ini, keduanya saling menguntungkan karena dari kotoran dan urine sapi dapat menjadi pupuk bagi sawit, sementara limbah sawit bisa dijadikan pakan ternak.

"Semua itu bisa terwujud asal ada komitmen dari perusahaan. Untuk itu, perusahaan harus sadar bahwa mereka telah mengambil sumber daya alam Kaltim sehingga harus bertanggung jawab turut membangun dan menyejahterakan masyarakat melalui sistem ini," ujarnya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Peternakan Kaltim Dadang Sudarya mengatakan pola lain yang membantu mewujudkan dua selain dari perusahaan, diantaranya dari APBD Kaltim, APBN, APBD kabupaten/kota, dari perbankan melalui kredit ternak seperti dari Bank Kaltim dan BRI.

Pada 2014 jumlah sapi di Kaltim dilakukan penambahan 100 ribu ekor yang diperoleh dari APBD Kaltim sebanyak 2.500 ekor, dari APBN sebanyak 1.250 ekor, dari APBD kabupaten/kota sebanyak 7.500 ekor.

Kemudian dari Bank Kaltim melalui pembiayaan modal dari program Kredit Ternak Sejahtera sebanyak 12.500 ekor, dari BRI 7.500 ekor, perusahaan tambang melalui integrasi sapi dengan lahan eks tambang sebanyak 12.500 ekor, dan integrasi sapi dengan perkebunan sawit sebanyak 56.250 ekor.

Sedangkan jumlah pengadaan sapi mulai 2015 hingga 2018 angkanya sama per tahun, masing-masing tahun sebanyak 475.000 ekor, sehingga total pada akhir 2018 akan tercapai populasi di Provinsi Kaltim sebanyak 2 juta ekor.

Rincian dari pengadaan sapi per tahun itu adalah dari APBD Kaltim sebanyak 11.875 ekor, dari APBN sebanyak 5.838 ekor, dari APBD masing-masing kabupaten/kota total sebanyak 35.625 ekor.

"Selanjutnya pengadaan sapi melalui kredit dari Bank Kaltim sebanyak 59.375 ekor, kemudian dari BRI sebanyak 35.625 ekor," ucap Dadang.(*)

Editor: Rahmad

Pewarta: M. Ghofar

sumber: antarakaltim

]]>
2017-09-28
419 Kementan Menerbitkan Atlas Peta Potensi Kawasan Peternakan http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/419/kementan-menerbitkan-atlas-peta-potensi-kawasan-peternakan.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/419/kementan-menerbitkan-atlas-peta-potensi-kawasan-peternakan.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/152533536159af9dafafa50.pic.jpg Kementerian Pertanian menerbitkan Atlas Potensi Pengembangan Kawasan Peternakan Sapi Potong untuk Provinsi Kalimantan Timur. Penerbitan Atlas ini guna menunjang Rencana strategis Kementerian Pertanian 2015-2019 yang menyatakan bahwa salah satu tantangan pembangunan pertanian ke depan adalah bagaimana memenuhi kebutuhan pangan masyarakat dan bahan baku industri dan energi di tengah dinamika kondisi perekonomian global dan perubahan iklim yang mungkin akan memengaruhi upaya-upaya pembangunan pertanian menuju swasembada dan kedaulatan pangan. Guna mengatasi tantangan tersebut, salah satu pendekatan yang dilakukan adalah melalui pengembangan kawasan pertanian yang telah diatur melalui Permentan No. 50 Tahun 2012 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian.

Menurut Amran Sulaiman (Menteri Pertanian) dalam sambutannya, Kawasan pertanian perlu dikembangkan agar kegiatan pembangunan pertanian dapat dilakukan secara utuh dan terpadu, serta fokus pada pencapaian sasaran pembangunan berdasarkan keunggulan kompetitif dan komparatif wilayah. Sebagai tindak lanjut rencana pengambangan kawasan pertanian, Pemerintah Provinsi diharuskan menyusun Masterplan yang menjabarkan rencana pembangunan kawasan selama lima tahun ke depan, dan Pemerintah Kabupaten/Kota menyusun Rencana Aksi yang berisi langkah-langkah kegiatan tahunan yang dilakukan di tiap kawasan. Dalam hal ini Kementerian Pertanian menyusun Atlas Peta Pengembangan Kawasan Peternakan sebagai acuan Pemerintah Daerah dalam menyusun Masterplan. Atlas tersebut secara garis besar memuat kondisi potensi pengembangan komoditas peternakan sapi potong berdasarkan informasi spasial tentang kondisi sumber daya lahan dan populasi ternak.

Menurut Sekjen Kementan Hari Priyono, pada hakikatnya pendekatan kawasan merupakan upaya pengembangan komoditas pertanian pada suatu wilayah yang memenuhi persyaratan agroekologis, memenuhi kelayakan agroekonomi dan agro-sosio-teknologi, aksesibilitas lokasi memadai dan diseconomic-externality yang ditimbulkannya dapat dikendalikan agar kawasan yang terbangun berkelanjutan. Untuk itu, informasi daya dukung lahan menjadi sangat penting yang dibangun dari analisis sumber daya lahan.peraturan Menteri Pertanian No.50/Permentan/OT/140/8/2012 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Pertanian menekankan bahwa pengembangan komoditas unggulan perlu dilaksanakan dengan pendekatan kawasan, ciri-ciri pengembangan kawasan pertanian antara lain:

  1. Berbasis agorekosistem (komoditas yang dikembangkan sesuai dengan agroekosistem setempat);
  2. Agregat hamparan/populasi ditentukan dengan batasan tertentu dan dapat lintas batas kabupaten;
  3. Pengembangan kawasan bersifat menyeluruh/tidak parsial yang mencakup aspek hulu hingga hilir;
  4. Sistem pertanian dapat dilakukan secara terintegrasi;
  5. Program dan kegiatan pada kawasan terpadu bai kantar Eselon I Kementan maupun antara Pusat dan Daerah; dan
  6. Pengembangan kawasan bersifat parsitipatif melibatkan Kementan dan Kementerian/Lembaga terkait, Pemda Provinsi, Pemda Kabupaten/Kota, dan pelaku usaha.

Pembangunan pertanian khususnya  pengembangan kawasan peternakan sangat membutuhkan data dan informasi dalam bentuk tabular dan spasial (peta) dan populasi ternak. Peta yang dihasilkan memberikan informasi lokasi, sebaran, dan luas lahan yang berpotensi untuk pengembangan kawasan peternakan.

]]>
2017-09-06
418 Upsus Siwab Kaltim Targetkan Dua Juta Sapi http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/418/upsus-siwab-kaltim-targetkan-dua-juta-sapi.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/418/upsus-siwab-kaltim-targetkan-dua-juta-sapi.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/ Samarinda (ANTARA Kaltim) - Program Upaya Khusus Sapi dan Kerbau Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) yang digagas pemerintah pusat kini dijalankan di Provinsi Kalimantan Timur untuk meningkatkan populasi sapi hingga dua juta ekor pada 2018.

"Pemprov Kaltim telah mencanangkan agar pada 2018 mampu menambah populasi sapi mejadi dua juta ekor. Salah satu langkah yang ditempuh adalah mengintensifkan Upsus Siwab," ujar Kabid Perbibitan dan Budidaya Dinas Peternakan Provinsi Kaltim I Gusti Made Jaya Adhi di Samarinda, Rabu.

Program Upsus Siwab yang dijalankan Pemprov Kaltim di antaranya melalui integrasi peternakan sapi dengan perkebunan kelapa sawit, termasuk pengembangan sapi di lahan bekas tambang batu bara.

Sasaran yang ingin dicapai dari intensifnya Upsus Siwab di Kaltim ada beberapa hal, di antaranya terlaksananya pelaksanaan inseminasi buatan sebanyak 18.942 akseptor di sembilan kabupaten/kota, terjadinya kebuntingan sapi dan kerbau betina sebanyak 9.927 ekor pada tahun ini.

Menurut Jaya Adhi, Upsus Siwab merupakan bentuk komitmen pemerintah pusat dalam mengejar swasembada sapi yang ditargetkan terealisasi pada 2026 guna mewujudkan Indonesia yang mandiri dalam pemenuhan pangan asal ternak, sekaligus meningkatkan kesejahteraan peternak.

Melalui Upsus Siwab, lanjutnya, akan dioptimalkan potensi sapi dan kerbau betina di dalam negeri untuk menghasilkan anakan dalam rangka menambah populasi ternak secara nasional. 

Ia menjelaskan, Upsus Siwab merupakan kegiatan yang terintegrasi mulai dari penyediaan semen beku, tenaga teknis dan sarana inseminasi buatan (IB) dalam pelaksanaan kawin suntik baik pada sapi maupun kerbau.

Kemudian distribusi dan ketersediaan semen beku, nitrogen cair, dan kontainer, termasuk penanganan gangguan reproduksi, pemenuhan hijauan pakan ternak dan pakan konsentrat, penyelamatan pemotongan betina produktif, dan monitoring, evaluasi serta pelaporan. (*)

Editor: Didik Kusbiantoro

Pewarta: M. Ghofar

sumber: antarakaltim

]]>
2017-09-05
417 Inseminasi Buatan di Penajam Targetkan 2.419 Sapi http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/417/inseminasi-buatan-di-penajam-targetkan-2.419-sapi.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/417/inseminasi-buatan-di-penajam-targetkan-2.419-sapi.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/ Samarinda (ANTARA Kaltim) -  Program inseminasi buatan atau kawin suntik pada sapi betina indukan di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur, hingga akhir 2017 ditargetkan sebanyak 2.419 ekor guna mempercepat kelahiran dan meningkatkan populasi sapi.

\"Total jumlah sapi betina dewasa di Penajam Paser Utara mencapai 4.305 ekor. Dari jumlah itu, ditargetkan sapi yang menjadi akseptor IB (inseminasi buatan) sebanyak 2.419 ekor,\" ujar Kabid Perbibitan dan Budidaya Dinas Peternakan Provinsi Kaltim I Gusti Made Jaya Adhi di Samarinda, Rabu.

Sedangkan sisanya sebanyak 1.886 sapi betina akan terus dilakukan percepatan kebuntingan melalui kawin secara alami, karena antara kawin suntik dan kawin alami masing-masing memiliki kelebihan.

Dari target 2.419 sapi betina dewasa yang menjadi akseptor IB, lanjut Jaya Adhi, target kebuntingan yang ingin dicapai sebanyak 1.572 ekor, sementara target kelahiran yang ingin direalisasikan sebanyak 1.494 ekor.

Sedangkan kinerja IB, pemeriksaan kebuntingan, dan kelahiran sampai dengan tanggal 25 Agustus 2017 berdasarkan hasil pendataan, capaiannya adalah untuk akseptor IB sebanyak 1.353 ekor atau telah dicapai sebanyak 55,93 persen dari total akseptor yang diinginkan.

Kemudian capaian dari pemeriksaan kebuntingan sudah terealisasi 574 ekor atau 46,51 persen dari target, dan realisasi lahir masih minim yang hanya tercapai 257 ekor atau 17,20 persen dari targetnya.

Ia menjelaskan, untuk kinerja IB dan pemeriksaan kebuntingan sudah lumayan bagus, namun untuk kelahiran masih jauh dari target yang diinginkan sehingga pihak terkait beserta sejumlah peternak harus terus menggenjot agar dapat mencapai target.

Untuk itu, ia berharap program percepatan kebuntingan yang merupakan bagian dari Program Upaya Khusus Sapi Indukan Wajib Bunting (Upsus Siwab) ini sungguh-sungguh dikerjakan sehingga peningkatan populasi ternak dapat dicapai. 

\"Lakukan langkah-langkah percepatan, misalnya dengan Gertak Berahi dan menerapkan Strategi 111, yaitu dalam satu hari terdapat satu inseminator melakukan IB bagi sati ekor sapi, sehingga kalau semua inseminator bekerja, saya yakin target ini bisa tercapai,\" ujarnya. (*)

Editor: Rahmad

Pewarta: M. Ghofar

sumber: antarakaltim

]]>
2017-09-05
416 Sapi Indukan di Paser Berkembang Jadi 1.067 Ekor http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/416/sapi-indukan-di-paser-berkembang-jadi-1.067-ekor.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/416/sapi-indukan-di-paser-berkembang-jadi-1.067-ekor.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/ Samarinda (ANTARA Kaltim) -  Indukan sapi potong dan pejantan bantuan pemerintah pusat dan Pemprov Kalimantan Timur pada 2015-2016 untuk Kabupaten Paser yang berjumlah 1.372 ekor, terus berkembang biak dan saat ini populasinya bertambah menjadi 1.607 ekor.

"Populasi awal bantuan dari pemerintah yang sebanyak 1.372 ekor tersebut terdiri dari 147 pejantan dan 1.225 betina indukan," ujar Kepala Bidang Perbibitan dan Budidaya Dinas Peternakan Provinsi Kaltim I Gusti Made Jaya Adhi di Samarinda, Jumat.

Sedangkan total perkembangan terakhir sesuai hasil pendataan tim, jumlah yang sebanyak 1.607 ekor itu terdiri dari sapi jantan 368 ekor dan sapi betina 1.239 ekor.

Penyebaran sapi sebanyak itu meliputi Kecamatan Long Kali, yakni dari jumlah bantuan 13 ekor pejantan dan 92 betina, dalam perkembangannya terjadi kelahiran dan kematian sehingga saat ini jumlahnya naik menjadi 145 ekor (36 jantan dan 109 betina).

Kemudian di Kecamatan Kuaro dari bantuan awal yang sebanyak 36 pejantan dan 323 betina, dalam perkembangannya terjadi 11 kelahiran dan tiga kematian, sehingga kini jumlahnya menjadi 391 ekor (85 jantan dan 306 betina).

Selanjutnya di Kecamatan Long Ikis, dari 908 ekor bantuan sapi betina dan jantan yang diberikan pemerintah, saat ini telah berkembang menjadi 1.071 ekor yang terdiri dari 247 jantan dan 824 ekor sapi betina.

Menurut ia, hingga kini Disnak Kaltim melakukan pemantauan sekaligus pendampingan terhadap perkembangan ternak tersebut, agar cepat dilakukan penanganan jika terindikasi ada sesuatu yang tidak diinginkan, terutama terkait kesehatan ternak.

Ia juga menyarankan kepada semua peternak di kabupaten/kota terus meningkatkan populasi sapi yang ada, karena hingga kini sebagian besar kebutuhan sapi maupun daging sapi bagi warga Kaltim masih didatangkan dari luar daerah. 

"Mengingat masih banyaknya daging sapi beku dan ternak sapi yang didatangkan dari luar, maka hal ini harus dimanfaatkan dengan baik oleh warga Kaltim maupun peternak untuk mengembangkan peternakan sapi," ucap Jaya Adhi. (*)

Editor: Rahmad

Pewarta: M. Ghofar

sumber: antarakaltim

]]>
2017-09-05
415 Website Disnak Keswan Masuk 10 Besar Nasional http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/415/website-disnak-keswan-masuk-10-besar-nasional.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/415/website-disnak-keswan-masuk-10-besar-nasional.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/77765731959accc9ff3ec5.monitoring_web_skor_kip.jpg SAMARINDA.  Dua website badan publik dilingkup pemprov kaltim yaitu website Dinas Perkebunan dan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan yang masuk 3 besar dalam pemeringkatan Komisi Informasi Provinsi Kaltim hasil monitoring keterbukaan informasi publik berbasis website badan publik pada bulan mei 2017 lalu, Kini masuk 10 besar dalam lomba website tingkat nasional .

“ Tentu saja ini perkembangan yang bagus karena dalam monitoring implementasi keterbukaan informasi publik berbasis website badan publik yang dilaksanakan oleh Komisi Informasi Provinsi Kaltim melalui bidang kelembagaan pada bulan mei 2017 lalu, selain Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim yang menempati peringkat 1 , website Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan menempati peringkat 3. Semoga dua badan publik ini tetap berkelanjutan menjalankan layanan informasi publik yang baik melalui website badan publik dan tentu saja diharapkan badan publik lainnya bisa termotivasi. Kami secara kontinyu akan terus melakukan monitoring implementasi keterbukaan informasi publik berbasis website badan publik guna mengawal implementasi UU KIP sekaligus mendorong badan publik untuk bisa menorehkan prestasi baik dilevel daerah maupun tingkat nasional dalam bidang keterbukaan dan layanan informasi publik sebagaimana yang telah dicontohkan oleh Dinas Perkebunan Provinsi Kaltim selama ini “ kata M.Imron Rosyadi Ketua KI Kaltim.

Komisi Informasi Provinsi Kaltim selain bertugas untuk menerima, memeriksa dan memutus sengketa informasi publik melalui mediasi dan ajudikasi non litigasi , juga aktif secara reguler melakukan montoring implementasi dan pelaksanaan UU KIP diantaranya melalui pemeringkatan implementasi keterbukaan informasi publik berbasis website badan publik dimana tahun 2017 ini direncanakan dilaksanakan dua kali yaitu pada bulan mei dan oktober .

Sumber: https://komisiinformasikaltim.wordpress.com/2017/08/29/3-besar-dalam-pemeringkatan-kip-kaltim-kini-masuk-10-besar-lomba-website-tingkat-nasional/

]]>
2017-09-04
414 Kabupaten Berau Siap Mengasuransikan 500 Ekor Sapi http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/414/kabupaten-berau-siap-mengasuransikan-500-ekor-sapi.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/read/news/2017/414/kabupaten-berau-siap-mengasuransikan-500-ekor-sapi.html http://peternakan.kaltimprov.go.id/images/berita/thumb/ Berau. Sebagai wujud keberpihakan pemerintah dalam upaya melindungi peternak dari resiko kematian dan kehilangan sapi, maka Kementerian Pertanian pada tahun 2017 mengimplementasikan Asuransi Usaha Ternak Sapi (AUTS). AUTS diharapkan dapat memberikan perlindungan kepada peternak jika terjadi sapi mati akibat penyakit, beranak, kecelakaan dan/atau kehilangan dengan mengalihkan kerugian kepada pihak lain melalui pertanggungan asuransi, serta mampu memberikan pendidikan kepada peternak dalam mengelola resiko dan sistem usaha peternakan yang baik.

Skema pembayaran premi 80% (Rp. 160.000.-) di subsidi oleh pemerintah dan 20% (Rp. 40.000.-) ditanggung oleh petani. Harga pertanggungan ternak sebesar Rp. 10.000.000- per ekor dengan jangka waktu pertanggungan/polis selama 1 tahun, dengan masa pendaftaran Januari sampai dengan Desember 2017. Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim mengalokasikan 500 ekor ternak sapi di Kabupaten Berau untuk diasuransikan pada tahun 2017. Hal ini disampaikan oleh Bapak Khairul Anam (Kasie. Pembiayaan dan Usaha Peternakan) pada saat sosialisasi AUTS di kantor bupati Berau pada tanggal 25 Juli 2017.

PT. Asuransi Jasindo juga memiliki produk asuransi non subsidi pemerintah yaitu produk asuransi untuk peternak/pelaku usaha ternak dalam bidang penggemukan. Dimana nilai pergantiannya disesuaikan dengan harga taksiran dengan beberapa tingkatan nilai premi   (0,9%  s/d  2%)  dan peride waktu dari asuransi tersebut.

Selain itu, dalam rangka membantu permodalan dan memberdayakan para peternak/pelaku usaha dibidang peternakan pada khususnya, Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur telah meluncurkan berbagai skema kredit program dengan insentif yang diberikan kepada peternak/pelaku usaha berupa subsidi suku bunga dan penjaminan kredit.

Adapun akses pembiayaan/skim kredit yang telah dikembangkan oleh Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur dengan sektor perbankan dalam hal ini BPD Kaltim yaitu program Kredit Ternak Sejahtera (KTS).

Kredit Ternak Sejahtra (KTS) merupakan Pinjaman/Kredit yang sifatnya produktif diperuntukan bagi perorangan/kelompok atau koperasi yang berusaha di bidang budidaya Peternakan (hewan/unggas). KTS memiliki suku bunga 9% dengan jenis bunga floating dan metode perhitungan anuitas/sliding. KTS memiliki dua jenis kredit yaitu Kredit Modal Kerja (KMK) dan Kredit Investasi (KI). Plafond Kredit Maksimal 70% dari Rencana Anggaran Biaya (RAB) di masing-masing sub sektor Peternakan (Hewan/unggas). Jangka Waktu Kredit Modal Kerja selama 12 bulan dan dapat diperpanjang, dan jangka waktu kredit Investasi hingga 5 (lima) tahun. Grace period disesuaikan dengan masa pembangunan budidaya peternakan atau maksimal 6 (enam) tahun.

 

 

]]>
2017-08-23