Sands Multimedia - 085708094363
admin@peternakan.kaltimprov.go.id 0541 - 743921 / 747745
Penajam Paser Utara Sentra Protein Hewani Penduduk IKN
09 Maret 2020 Admin Website Berita 55

Tahun 2015 melalui bantuan APBN perubahan ada 1.926 ekor sapi Brahman Cross untuk Kaltim dari target awal 10.000 ekor. Sapi sebanyak 1.926 ekor tersebut dialokasikan untuk dua daerah potensial yakni, Kabupaten Penajam Paser Utara sekitar 701 ekor dan Kabupaten Paser sebanyak 1.225 ekor.

Rencananya, sapi-sapi indukan tersebut untuk memacu populasi sapi Kaltim dan pola pengembangannya dilakukan dilahan kebun kepala sawit atau integrasi sapi sawit.

“Cukup menggembirakan. Awalnya 701 ekor, saat ini tercatat 1.240 kelahiran selama kurun empat tahun,” jelas Kepala Bidang Peternakan dan Kesehatan Hewan Dinas Pertanian Penajam Paser Utara drh.Arief Murdiyanto. Kerja yang bagus melalui proses yang melelahkan. Sebab sapi Brahman Cross yang diberikan pemerintah adalah sapi impor dari Northern Territory, Australia yang sudah pasti berbeda iklim atau cuaca dan geografis dengan Indonesia secara khusus Kalimantan Timur.

Demikian pula pola pemeliharaannya, negara asalnya, Brahman Cross dengan sistem penggembalaan di padang penggembalaan semacam lepas liar. Namun, saat di petani (kelompok tani) harus dipelihara gembala di kebun sawit rakyat (integrasi sapi sawit).

“Walaupun, akhirnya kombinasi antara dilepas dan dikandang. Hanya tetap memanfaatkan hijauan atau sumber pakan dari lahan sawit itu,” jelas Arief.

Menurut dokter hewan ini bahwa pendatang asing si Brahman Cross yang tadinya sangat asing bagi petani lokal. Namun saat ini sangat familier sebab adaptif. 

“Kelompok tani yang pelihara sapi ini tadinya 15 kelompok (Kecamatan Babulu 11 poktan dan Sepaku 4 poktan. Kini, berkembang pesat menjadi 31 kelompok (Babulu 18 poktan dan Sepaku 12 poktan),” sebut Arief.

“Walaupun ada kendala, kita selama ini merasa nyaman-nyaman aja,” aku Ketua Poktan Mugi Rejo Desa Babulu Darat Tutut Harianto dengan senyum bahagia mengungkapkan pengalaman kelompoknya memelihara sapi Brahman Cross sejak awal. Dan kelompok ini sama halnya kelompok lainnya mendapat jatah 50 ekor indukan Brahman Cross ditambah enam pejantan.

Dari awal pemeliharaan hingga memasuki tahun kelima rata-rata indukan sudah melahirkan dua kali. “Ada juga yang sudah empat kali melahirkan. Juga ada yang kita manfaatkan (jual). Tabungan hiduplah, sapi ini bagi kami,” ungkap Tutut lagi.

Demikian halnya, pengakuan gembira Suseto, Ketua Poktan Sumber Makmur Desa Gunung Intan Babulu yang beranggotakan 36 anggota (18 orang aktif memelihara sapi). 

“Untuk biaya anak sekolah kami. Beli tanah juga ada, bahkan Pak Sujono sempat umroh sama sapi (biaya jual sapi). Bikin rumah. Alhamdulillah, pelihara sapi sangat membantu ekonomi kami,” ucapnya yang diamini saluruh anggota poktan. Bahkan, penegasan Suseto kalau harus memilih. Dirinya, lebih baik memelihara sapi Brahman Cross daripada jenis Sapi Bali. Sebab, pola pemeliharaan sama dengan beban biaya dan waktu yang sama. “Tapi kalau manfaat (jual) jauh lebih besar Brahman Cross nilainya,” sebutnya.

Lain halnya, Poktan Tani Mekar Jaya Desa Gunung Mulia yang mendapatkan sapi hasil guliran dari Poktan Mugi Rejo juga masuk program APBN Perubahan 2015 sapi Brahman Cross. Memiliki keseluruhan luas lahan 40 hektar dan pemanfaatan lahan ternak/kandang sekitar 2 hektar. Maka, kelompok ini masih potensial untuk mendapatkan bantuan sapi indukan untuk pengembangan populasi.

“Kami sangat siap menerima, seandainya memang ada program. Apalagi, mempersiapkan pangan bagi ibu kota negara di Kaltim, khususnya Penajam Paser Utara,” ujar Sekretaris Poktan Mekar Jaya Kuswandi. Sementara Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kaltim Dadang Sudarya mengungkapkan tahun 2020 ini pemerintah pusat melaksanakan pengadaan 10.000 ekor sapi dan Kalimantan Timur mendapat jatah 240 ekor.

Sumber: biro humas setprov Kaltim


Artikel Terkait
Copyright 2019 © Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Kaltim | Supported by BubuhanWeb