Sands Multimedia - 085708094363
admin@peternakan.kaltimprov.go.id 0541 - 743921 / 747745
Pengawasan dan Profiling Peternakan Babi
12 Maret 2021 Admin Website Artikel 407
Pengawasan dan Profiling Peternakan Babi

ASF (African Swine Fever) atau demam babi Afrika sudah menyebar di berbagai belahan dunia, termasuk Eropa dan Asia. Terbaru di Negeri Sabah Malaysia dilaporkan  kejadian wabah ASF pada bulan Februari 2021 serta Badan Kesehatan Hewan Dunia (OIE) telah menyatakan wabah ASF terjadi di negeri Sabah, Negara Malaysia pada pada tanggal 26 Februari 2021.

“Tentu saja hal ini  sangat mengkhawatirkan apalagi Kalimantan berbatasan langsung dengan Sabah Malaysia,  jangan sampai ASF masuk ke wilayah Kalimantan  khususnya Kalimantan Timur," ujar Dyah Anggraini, Kepala Bidang Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur. Oleh karenanya penting bekerjasama dengan lintas sektoral (Kepolisian, TNI dan Karantina) dalam pengawasan  kemungkinan pemasukan babi dan produk babi ilegal dari Negeri Sabah Malaysia ke Kalimantan.

Dalam upaya mencegah penularan penyakit ASF dari wilayah Negeri Sabah ke Provinsi di Pulau Kalimantan, maka Tim Kesehatan Hewan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Provinsi Kalimantan Timur dan Dinas Ketahanan Pangan, Perikanan dan Pertanian Kota Bontang  serta Puskeswan Kota Bontang  Timur melakukan tindakan-tindakan tegas dan upaya kerja nyata secara tepat, cepat dan efektif dalam rangka pencegahan, mitigasi risiko dan peningkatan kewaspadaan (Early Warning System) terhadap penyakit ASF pada Kamis, 5 Maret 2021 di Kota Bontang sebagai kantung populasi peternakan babi di wilayah Provinsi Kalimantan Timur, seperti kegiatan Sosialisasi, Komunikasi dan Edukasi (KIE) kepada petugas, peternak dan masyarakat tentang pencegahan penyakit ASF dan bahaya penyakit ASF serta melakukan identifikasi dan profiling kantung-kantung populasi peternakan babi.

Dyah  menjelaskan lebih lanjut dampak ekonomi jika ASF sampai masuk ke Kalimantan Timur. Kematian yang ditimbulkan penyakit ASF, akibat virus yang virulensi menengah berkisar 30-70% populasi, bahkan mencapai 100% pada virus yang virulensinya tinggi.  Dampak lainnya adalah  hilangnya mata pencaharian peternak babi. Selain kerugian ekonomi, terdapat biaya program pengendalian penyakit ASF yang sangat tinggi yang harus dikeluarkan daerah.. Di antaranya untuk pengendalian lalu lintas, pengendalian vektor, biosekuriti, pemantauan dan surveilans, serta sosialisasi.


Artikel Terkait
Copyright 2019 © Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Kaltim | Supported by BubuhanWeb