Sands Multimedia - 085708094363
admin@peternakan.kaltimprov.go.id 0541 - 743921 / 747745
Produksi Sapi di Kaltim Masih Rendah
11 Juni 2021 Admin Website Berita 42
Produksi Sapi di Kaltim Masih Rendah Kunjungan Gubernur Kaltim ke miniranch di Desa Jonggon Jaya

Gubernur Kaltim Isran Noor menghadiri ground breaking kawasan kedua miniranch Jayatama di Desa Jonggon Jaya Kecamatan Loa Kulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, kamis (10/6). Pada kesempatan tersebut Gubernur Isran Noor menyatakan produksi sapi masih rendah sebab setiap tahun Kaltim masih memasok sapi dari luar daerah seperti Sulawesi dan Nusa Tenggara Timur (NTT). Menurutnya, produksi daging serta sapi di Kaltim akan mencapai swasembada ataupun lebih jika dapat menghasilkan 1,5 kali dari jumlah penduduk di Kaltim.

“Kalau Australia itu jumlahnya 15 kali lipat penduduk Australia. Kita jauh. Kalau ada, upaya ini peluang bisnis yang sangat tinggi”, ungkap Isran Noor.

Selain itu, ia mengkritik luasan lahan miniranch yang dimiliki PT. Bramasta Sakti di Desa Jonggon Jaya. Ia menilai kawasan tersebut untuk kebutuhan pangan sapi masih kurang. Sebab dalam perhitungannya seekor sapi membutuhkan setengah hektar tempat untuk dilepasliarkan. “Kalau ranch tanaman rumput ada 200 hektar tidak cukup. Idealnya satu ekor itu adalah untuk setengah hektar kalau dilepas. Memakan sendiri. Lebih luas areanya dibandingkan populasi”, ucapnya.

Meski begitu, sektor peternakan juga menjadi penyumbang pendapatan Kaltim. Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Munawwar mengatakan, pada tahun 2020 PDRB di Kaltim mencapai Rp. 2,19 Triliun. “Kami perlu sampaikan kontribusi sub sektor peternakan dalam PDRB mencapai 0,36 persen tapi berpengaruh”, ucapnya.

Meskipun begitu, Kaltim masih belum menjadi daerah swasembada sapi. Sebab dari data yang ia himpun tahun 2020 populasi di Kaltim mencapai 123 ribu ekor. Ini masih jauh dari jumlah yang ditargetkan yaitu 650 ribu ekor. Untuk itu pemerintah mengapresiasi kegiatan pihak swasta dalam peningkatan kebutuhan daging sapi di Kaltim. “Program inilah kita kembangkan di area eks tambang batubara, pola kolaborasi integrasi sawit yang harus ditingkatkan”, ucapnya.

Di Desa Jonggon, Gubernur Isran Noor melihat langsung lahan bekas tambang milik PT. Bramasta Sakti. Peternakan yang telah berjalan lebih dari setahun ini telah mengalami kemajuan signifikan. Selain jumlah sapi bertambah, pengelola pun meningkatkan kualitas sapi. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas genetik sapi. “Perbaikan genetik sapi dengan mendatangkan sapi berkualitas langsung dari Kupang”, ucap pembina yayasan Life After Mine Andrew Hidayat.

Ia mengatakan, saat ini pihaknya telah mengembangkan kawasan eks tambang selain peternakan. Bahkan pihaknya mulai fokus di pertanian jagung. “Lahan pasca tambang setelah studi lebih baik peternakan dulu di luar peternakan. Kita butuh pangan jagungnya ada ekosistem lengkap antara peternakan dan pangannya. Sehingga lebih baik secara ekosistemnya”, jelasnya.

Pihaknya membutuhkan lahan 1.000 hektar sampai 1.500 hektar. Saat ini populasi sapi hampir mencapai 2.000 ekor. Gubernut Isran Noor mengapresiasi program tersebut. Ia mengingatkan kelompok tani di desa tersebut untuk terus meningkatkan kemampuan dalam mengelola peternakan maupun pertanian.

Sumber: Tribun Kaltim edisi jumat 11 Juni 2021.


Artikel Terkait
Copyright 2019 © Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Prov. Kaltim | Supported by BubuhanWeb